Ayah Penganiaya Anak


ilustrasi
ilustrasi

DIBELIT persoalan ekonomi, terkadang membuat orang tak bisa berpikir jernih, maunya marah. Kemarahan yang tak terkendali pada akhirnya bukan saja merugikan diri sendiri tapi juga orang lain. Bahkan, hanya gara-gara masalah ekonomi, seorang bapak, TS (45), warga Dukuh Pandak Desa Jatisobo Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, kalap menganiaya dua anak perempuannya hingga mengalami luka serius.

Usai kejadian, TS berulang kali mencoba bunuh diri, namun selalu gagal. Atas tindakannya itu, TS pun ditangkap dan dijadikan tersangka penganiayaan. Sedang terkait percobaan bunuh diri, tidak bisa dipersoalkan secara hukum karena tidak membahayakan orang lain. Berbeda bila ada yang membujuk atau memberi sarana TS untuk bunuh diri. Bila bunuh dirinya berhasil, maka si pembujuk ini dapat dipidana. Tapi dalam praktiknya hampir tak pernah ada orang bunuh diri karena dibujuk, sebaliknya yang sering terjadi orang hendak bunuh diri justru dibujuk agar mengurungkan niatnya.

Belum jelas bagaimana cerita detailnya TS sampai menganiaya dua anak perempuannya gara-gara kesulitan masalah ekonomi. Polisi sebaiknya mencecar TS dengan pertanyaan mengapa yang bersangkutan melakukan hal demikian (menganiaya karena alasan ekonomi).

Tindakan TS dapat dijerat Pasal 44 UU No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) atau Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan pada umumnya. Biasanya, penganiayaan atau kekerasan yang terjadi di lingkup rumah tangga, sangatlah tertutup. Akibatnya jarang kasusnya diproses hukum. Padahal, penganiayaan yang terjadi di lingkup ramah tangga, deliknya bukan aduan.

Kasus penganiayaan yang dilakukan TS terungkap karena ketahuan tetangga. Terlebih, pelaku berusaha bunuh diri, sehingga tetangga berusaha mencegahnya. Padahal, tanpa laporan dari warga sekalipun, polisi dituntut proaktif untuk memproses kasus tersebut. Tapi, rasanya memang tidak mungkin polisi melakukan patrol dari rumah ke rumah, malah nanti dianggap melanggar privasi seseorang.

Jika demikian, peran tetangga sangat strategis. Tetangga diharapkan proaktif melapor polisi ketika menemui hal-hal yang mencurigakan. Dalam kasus di atas, kondisi perekonomian keluarga TS justru makin sulit. TS malah tidak bisa mencari nafkah untuk keluarganya karena berada di tahanan. Posisi TS menjadi dilematis, bila tidak ditahan membahayakan keluarganya, tapi bila ditahan tak bisa mencari nafkah untuk keluarga. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
DIKAWAL KETAT APARAT- Ibadah di GPdI Immanuel Sedayu Aman

SEDAYU (MERAPI) - Berkat pengawalan ketat aparat gabungan TNI, Polri dan Satpol PP Bantul, akhirnya ibadah rutin mingguan di Gereja

Close