Mabuk dan Ngisruh


ilustrasi
ilustrasi

MABUK dan ngisruh adalah dua perbuatan yang berbeda yang punya dampak hukum. Sebagai ilustrasi, orang yang menenggak minuman keras (miras) hingga mabuk kemudian pulang dan tidur, tak ada persoalan hukum. Berbeda bila orang tersebut mabuk kemudian ngisruh atau bikin onar di jalan, maka akan berurusan dengan hukum.

Nampaknya, yang kedua inilah yang dilakukan Krisdiyanto (30), warga Celeban Umbulharjo Yogya yang sehari-hari bekerja sebagai sopir rosok. Awalnya, ia mengikuti acara reuni dengan teman-temannya. Bersama empat temannya ia menenggak miras yang memang sudah disediakan di tempat itu, di kawasan Jalan Parangtritis. Usai nenggak miras, Krisdiyanto menujul Alun-alun Kidul. Tapi di tengah jalan ia bikin kisruh dengan memukul pengendara motor. Sang pengendara motor balas memukul hingga Krisdiyanto jatuh. Berikutnya, ia menggedor-gedor pintu warga hingga bikin gaduh.

Atas perbuatannya ini hakim PN Yogya, Senin pekan lalu, menghukum Krisdiyanto denda Rp 500 ribu subsider tujuh hari kurungan atas perbuatan yang masuk kategori tindak pidana ringan (tipiring). Kris pun menerimaputusan tersebut, dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.

Pertanyaannya, Kris dihukum karena mabuk atau karena ngisruh ? Mabuk akan berimplikasi hukum bila berlanjut ngisruh atau bikin gaduh di tempat umum. Jadi, bila saat itu Kris langsung pulang dan tidak bikin keributan, tak ada persoalan hukum. Mabuk di tempat umum, tentu berpotensi melanggar hukum. Mengapa ? Karena masyarakat menjadi terganggu dan tidak nyaman, apalagi sampai memukul atau menganiaya orang.

Selain itu, mencekoki miras kepada orang yang telah nyata-nyata mabuk juga masuk kategori pelanggaran hukum. Begitu pula memaksa orang lain agar menenggak miras, masuk kategori pelanggaran hukum. Lantas bagaimana sebaiknya ? Sebaiknya orang tidak mengonsumsi miras, lebih baik mengonsumsi minuman yang sudah jelas kasiatnya seperti minuman jeruk, jus dan sebagainya.

Sayangnya regulasi soal peredaran miras masih sering dilanggar. Bahkan, di warung-warung kecil masih ditemui miras dengan berbagai merek. Mereka umumnya berjualan secara sembunyi-sembunyi. Para penjual ini mungkin hanya berpikir secara ekonomi yakni bagaimana mendapatkan untung dan tidak pernah berpikir dampaknya. Padahal kita tahu, miras adalah pemicu tindak kejahatan. Jadi, sudah benar bila polisi menggelar razia miras secara periodik. (Hudono)

Read previous post:
WARISAN DIBALIK NAMA DAN DIJUAL Ahli Waris Gugat Pembatalan Sertifikat

BANTUL (MERAPI) - Tiga penggugat, Budi Giyanto (63) dan Tugiyah (69) warga Santan Maguwoharjo Sleman serta Tukijah (61) warga Kaligawe

Close