Mahasiswi Nyambi


ilustrasi
ilustrasi

LAGI-LAGI, media sosial (medsos) bisa digunakan untuk keperluan apa saja, termasuk mencari uang. Sayangnya, ada yang mencari uang dengan cara tak halal. Seperti terlihat akhir-akhir ini, polisi berhasil mengungkap prostitusi lewat online. Pelaku atau mucikari menjaring konsumen atau pelanggan melalui medsos.

Meski sudah banyak yang ditangkap, ternyata bisnis esek-esek ini masih terus berlangsung dan kencenderungannya semakin rapi. Tapi, sebagaimana dalam teori kriminologi, tidak ada kejahatan yang sempurna. Serapi-rapinya kejahatan dilakukan, akan tetap meninggalkan jejak, sekecil apapun.

Itulah yang dilakukan AN (22) mahasiswi yang tinggal di Nologaten Depok Sleman. Bersama temannya, YN (29), warga Dumai Barat, mereka menawarkan perempuan cantik melalui medsos, khususnya twitter dengan tarif bervariasi. AN mensyaratkan konsumen membayar penuh sebelum mereka bertemu di hotel untuk eksekusi. Modus seperti ini akhirnya berhasil diungkap petugas, keduanya ditangkap dan diproses hukum.

Prostitusi via medsos memang bukan fenomena baru, dan sudah banyak kasus yang terungkap. Namun, anehnya, bisnis esek-esek ini terus saja berlangsung, bahkan modusnya makin bervariasi. Sejalan dengan itu, polisi juga terus berselancar di dunia maya untuk mendeteksi adanya praktik terselubung dalam berkomunikasi lewat medsos. Patroli itupun membuahkan hasil dan menangkap pelaku untuk diproses hukum.

Dalam kasus ini, mucikari selalu menjadi tersangka utama, sedang pelanggannya lolos lantaran tidak ada hukum yang mengaturnya. Seperti pada kasus prostitusi artis, mucikari dijadikan tersangka, sedang pengguna jasanya bebas. Tapi mengapa artis Vanessa Angel dihukum karena terlibat prostitusi ? Tak lain karena ia sendiri menjajakan dirinya. Artinya Vanessa sekaligus berperan sebagai ‘marketing’ sehingga tetap dimintai pertanggungjawaban hukum.

Sangatlah disayangkan, AN yang masih kuliah ini terjebak bisnis haram. Mungkin ia beralasan terpaksa melakukan itu lantaran desakan kebutuhan ekonomi. Hampir semua kasus kriminal selalu dilatarbelakangi masalah ekonomi. Padahal, tidak selamanya relevan. Misalnya, AN sebenarnya masih bisa mencari uang dengan cara yang halal melalui media sosial, tapi harus sabar dalam menjajakan barang.

Agak beda dengan bisnis jasa seks yang notabene lebih mudah menggaet konsumen. Namun, akibatnya sangat fatal bila ketahuan. Kuliah AN bisa berantakan gara-gara masalah ini. Apalagi ancaman atas tindak pidana ini (menjajakan perempuan) cukup berat yakni pidana penjara 6 tahun sebagaimana diatur dalam UU ITE.

Padahal,AN bisa membuka usaha yang halal lewat online, misalnya dengan berjualan barang. Bisnis online ini justru sangat menjanjikan, selain praktis juga pangsa pasarnya tidak terbatas. Sayangnya, potensi ini tidak dimanfaatkan AN, malahan terjerumus ke dalam lembah kenistaan. (Hudono)

Read previous post:
ilustrasi
PENGGELAPAN UANG PT MUI RP 147,3 JUTA -Terdakwa Alihkan Uang ke Rekening Pribadi

BANTUL (MERAPI) - Terdakwa Branch Merchandising Manager (BMM) PT Midi Utama Indonesia Tbk, SF (33) telah melakukan penggelapan uang perusahaan

Close