Mencuri Barang Teman


ilustrasi
ilustrasi

BERGAUL dengan teman haruslah selektif. Sebab, bisa jadi mengaku teman namun kelakuannya sangat merugikan. Agaknya, hal itu kurang dipahami Luki Arisandi warga Condongcatur Depok Sleman. Ia terlalu percaya pada temannya, FK (30) warga Kaliangkrik Magelang yang ternyata tega mencuri motornya. Sudah begitu, ia minta tebusan untuk mengembalikan motor Luki.

Kasus ini agak aneh juga. Bagaimana mungkin seorang teman bisa berbuat demikian. Berawal meminjam motor Luki, FK kemudian menduplikatkan kunci kontak. Hingga suatu saat ketika motor diparkir, FK mengendap-endap membawa motor Luki menggunakan kunci kontak duplikat. Usai kejadian, Luki lapor polisi dan tanpa diduga FK-lah yang mencuri motornya.

Luki masih berbaik hati dengan mentransfer uang tebusan ke FK. Pada suatu waktu FK sengaja ingin bertemu Luki dan saat itulah ia diringkus polisi. Seperti lazimnya maling, ada saja alasan mengapa berbuat jahat. FK yang notabene pengangguran butuh uang sehingga mencuri motor temannya.

Pertanyaannya, mengapa yang jadi sasaran motor teman, mengapa bukan orang lain ? Mungkin pelaku ingin praktisnya. Dengan ngembat motor teman, prosesnya akan mudah. Tapi celakanya, ia minta tebusan sehingga aksinya malah ketahuan.

Dengan kejadian tersebut, Luki tentu berpikir ulang untuk berteman lagi dengan FK. Dengan teman sendiri saja tega berbuat demikian, apalagi dengan orang lain. Karena kasusnya telah ditangani kepolisian, Luki harus bersabar untuk mendapatkan motornya. Tapi karena kasusnya sudah jelas, dimungkinkan motor Luki kembali.

Sebab, dalam beberapa kasus, meski pelaku berhasil ditangkap, barang yang dicuri belum tentu kembali, misalnya bila barang tersebut sudah dijual dan uangnya sudah dibelanjakan. Biasanya polisi akan melacak keberadaan barang tersebut. Bila barang tersebut ternyata jatuh ke tangan penadah, maka polisi harus memproses lebih lanjut.

Orang yang membeli barang curian bisa bermasalah dengan hukum, kecuali ia bisa membuktikan bahwa sejak awal tidak mengetahui bahwa barang yang dibelinya hasil kejahatan. Bila ia mengetahui ada yang tidak beres dengan perolehan barang yang dibeli itu, dan nekat membelinya (biasanya dengan harga murah), bersiap-siaplah untuk berhadapan dengan petugas hukum. Sebab, sekalipun ia bukan penadah, tapi hanya ingin mendapatkan barang dengan harga miring, tetap saja harus mempertanggungjawabkannya di depan hukum. (Hudono)

Read previous post:
RENCANA DIJUAL KE TEMAN-TEMAN- Pemilik Psikotropika Mulai Diadili

BANTUL (MERAPI) - Pemilik psikotropika jenis Yarindu, AW alias Petok (25) yang tinggal di Giwangan Umbulharjo Yogyakarta mulai diajukan ke

Close