Klitih di Mana-mana


ilustrasi
ilustrasi

AKSI klitih ternyata tak hanya terjadi di Yogya. Di Magelang, tepatnya di Jalan Pemuda Barat Desa Taman Agung Muntilan, lima remaja yang rata-rata masih berstatus pelajar, tiba-tiba diserang segerombolan cah klitih, Minggu malam pekan lalu. Akibatnya , mereka mengalami luka serius, bahkan seorang di antaranya harus dirujuk ke RSUP Dr Sardjito. Tak hanya itu, salah seorang remaja putri, Kustantri (16) juga menjadi korban pembacokan. Usai membacok, gerombolan klitih ini kabur.

Tak ada yang tahu mengapa gerombolan ini menyerang secara membabi buta kelima remaja tersebut. Karena penyebab atau motifnya tidak jelas, aksi mereka bisa disebut sebagai klitih. Bahkan, tak ada prolog atau dialog sebelum mereka membacok. Kelima remaja yang tak siap menerima serangan pun kocar-kacir dan mengalami luka bacok di beberapa bagian tubuh.

Polisi masih menyelidiki kasus tersebut. Terkait kejadian tersebut, polisi langsung meningkatkan patroli dan pemantauan terhadap tempat-tempat yang dianggap rawan kejahatan. Sementara masyarakat juga diimbau meningkatkan siskamling, sehingga bila terjadi peristiwa kriminal bisa segera diatasi.

Mengingat keterbatasan jumlah aparat kepolisian, wilayah yang bisa diback up juga terbatas. Tidak mungkin aparat keamanan meng-cover seluruh wilayah atau tempat yang dirasa rawan kejahatan. Dalam kaitan itulah peran masyarakat sangat dibutuhkan untuk membantu aparat kepolisian dalam menciptkan kamtibmas.

Nampaknya, berdasar pengamatan akhir-akhir ini, pasca-Lebaran, aksi klitih kembali meningkat, bahkan kualitasnya cenderung naik. Kalau sebelumnya korban lebih banyak laki-laki, kini muncul fenomena baru, yakni ada perempuan yang menjadi korban. Memang terasa aneh aksi klitih ini, mengapa menyerang remaja perempuan yang notabene tidak bersenjata ? Itulah karakteristik klitih, yakni sasarannya acak tanpa sebab yang jelas.

Dengan kata lain, klitih bukan lagi monopoli Yogya, artinya terjadi pula di daerah lain, bahkan terjadi di mana-mana. Kiranya sudah saatnya menghilangkan imej Yogya sebagai daerah klitih atau rawan klitih. Dengan terjadinya aksi klitih di Magelang, bisa diartikan bahwa aksi kekerasan semacam itu tak hanya terjadi di kota pendidikan ini.

Mengatasi klitih memang tak bisa hanya diserahkan kepada aparat kepolisian semata, tapi juga masyarakat. Karenanya sudah benar bila pihak kepolisian mendorong agar masyarakat meningkatkan siskamling. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tidak keluar malam, kecuali bila ada urusan penting. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
DAMPINGI PERAJIN BAMBU SANGGRAHAN I- Dosen Hukum UMY Pengabdian Masyarakat

DLINGO (MERAPI) - Dua Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FH UMY), Ani Yunita SH dan Heri Purwanto SH melakukan

Close