Manusia Dikira Musang

Spread the love


ilustrasi
ilustrasi

SUKAMTO Rejo (79), seorang kakek warga Dusun Pandeyan Srimulyo Piyungan Bantul , bernasib apes. Ia tewas tertembak peluru kalibar 4,5 yang dimuntahkan dari senapan angin tetangganya sendiri, Mashud, Rabu pekan lalu. Meski sudah dibawa ke rumah sakit, nyawanya tidak tertolong. Mashud tak mengira bila Sukamto menjadi korban penembakan dirinya. Awalnya, ia hendak membidik musang yang sering memangsa ayamnya.

Begitu musang terlihat di semak-semak, Mashud langsung mengarahkan senapan ke sasaran. Dan, setelah merasa tepat sasaran, senapan langsung menyalak, hingga terdengar suara orang mengerang kesakitan. Setelah didekati, ternyata bidikan Mashud melenceng hingga mengenai Sukamto yang saat itu sedang menyiapkan kayu untuk bikin arang. Menyadari kesalahannya, Mashud pun bergegas membawa Sukamto ke rumah sakit. Lantaran luka parah yang diderita di bagian kepala dan menembus dada, nyawa Sukamto tak bisa diselamatkan.

Tewasnya Sukamto akibat tertembak peluru senapan angin Mashud, bolehlah disebut sebagai musibah. Namun, bukan berarti tidak berimplikasi hukum. Konon, persoalan tersebut sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Namun, apakah kasus hukumnya selesai ? Sebenarnya tidak. Ini seperti kasus sopir yang menabrak pengendara motor hingga meninggal. Sang sopir tetap dimintai pertanggungjawaban hukum karena akibat kelalaiannya telah mengakibatkan orang lain meninggal.

Begitu pula dalam kasus salah tembak yang menimpa Sukamto. Mashud sama sekali tidak bermaksud menembak Sukamto, melainkan musang yang sering memangsa ayamnya. Namun karena tembakan meleset, maka Sukamto menjadi korban. Dalam hukum ini disebut sebagai tindak kelalaian. Dan setiap kelalaian yang mengakibatkan nyawa melayang harus dipertanggungjawabkan di depan hukum.

Penyelesaian secara kekeluargaan hanyalah dimaksudkan untuk meringankan beban keluarga korban. Meski begitu, tindakan Mashud tetap dapat dikategorikan sebagai tindak kelalaian yang mengakibatkan orang lain meninggal sebagaimana diatur Pasal 359 KUHP. Mungkin pihak keluarga telah mengikhlaskan kepergian Sukamto, tapi proses hukum mestinya tetap jalan.

Hal penting dari kasus tersebut adalah sikap kehati-hatian. Jangan sampai orang ceroboh atau grusa-grusu sehingga membahayakan keselamatan orang lain. Sebab, kecerobohan bisa berbuntut tuntutan hukum. Jadi, meski tidak ada niat jahat, tetap saja orang dapat dihukum karena telah merugikan orang lain, atau menyebabkan nyawa orang lain melayang. (Hudono)

Read previous post:
ilustrasi
HARI RAYA IDUL FITRI- 820 Napi Terima Remisi, 18 Langsung Bebas

YOGYA (MERAPI) - Dalam peringatan Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriyah tahun 2019, sebanyak 820 narapidana (napi) di wilayah hukum

Close