Salah Sasaran


ilustrasi
ilustrasi

AKSI klitih di bulan Ramadan tak juga surut. Gerombolan klitih yang berjumlah tujuh orang ngisruh di Dusun Tegalsari Tirtomartani Kalasan Sleman, Senin pagi pekan lalu. Pelaku membacokkan sabit dan merusak motor korban. Untung korban berhasil menghindar dan minta pertolongan warga. Berkat bantuan warga, ketujuh cah klitih yang rata-rata berusia belasan tahun itu berhasil diamankan. Seorang remaja putus sekolah, HK (18) warga Gamping ditahan, sedang enam lainnya hanya dikenai wajib lapor.

Menurut keterangan yang diperoleh kepolisian, mereka awalnya janjian untuk berkelahi dengan lawan. Namun, saat itu muncul Gita Ramadan (20) yang dikiranya orang yang menganiaya anggota gerombolan klitih ini. Gita pun dikejar dan dibacok HK, namun meleset, kemudian minta pertolongan warga. Hingga kemudian terjadi aksi kejar-kejaran warga dengan gerombolan klitih. Selain membacok, HK juga merusak sepeda motor korban. Untuk itulah ia dianggap paling bertanggung jawab atas kejadian tersebut sehingga ditahan polisi.

Mengapa 6 cah klitih lainnya dilepas dan hanya diminta menandatangani surat pernyataan tidak mengulangi perbuatannya ? Inilah yang terkadang disesalkan masyarakat, karena polisi terkesan bertindak lunak . Polisi pasti punya alasan untuk tidak menahan mereka. Boleh jadi, keenam anak tersebut hanya sekadar menemani HK yang dianggap paling senior dan berani membacok.

Dalam teori psikologi, seseorang kalau sudah bergabung dengan teman-temannya timbul keberanian untuk berbuat apa saja. Berbeda bila hanya sendirian, masih menimbang-nimbang untuk bertindak ngisruh. Merasa dituakan HK makin berani membawa senjata tajam dan membacok korban, meski meleset. Bahkan, ia juga berani merusak sepeda motor korbannya.

Jika demikian, sudah tepat bila polisi melakukan penahanan. Bisa dibayangkan bila HK tidak ditahan, niscaya akan semakin ‘kemlinthi’ dan dipastikan mengulangi perbuatannya. Bahwa kemudian terungkap tindakan mereka salah sasaran, tentu tidak bisa menjadi alasan pemaaf perbuatan. Bahkan, tidak salah sasaran sekalipun, tindakan HK tetap harus dihukum.

HK tetap harus diproses hingga pengadilan, meski usianya masih relatif muda, tapi bukan lagi anak-anak. Sedang keenam temannya, selain wajib apel, juga harus dipantau pergaulannya. Orangtua mereka juga perlu dibina agar tidak membiarkan anaknya berkeliaran di jalan dan bikin onar. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Ratusan orang mengikuti kampanye 'One Color One Soul' di Titik Nol Kilometer Yogya. (MERAPI-YUSRON MUSTAQIM)
BEKERJA SAMA DENGAN FISIP UMY- Granat Gelar Kampanye Antinarkoba

YOGYA (MERAPI) - Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Nasional Anti Narkotika (DPD Granat) DIY bekerja sama dengan mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi

Close