Memikat dengan Guna-guna


ilustrasi
ilustrasi

BOLEH percaya boleh tidak, ada cara memikat perempuan dengan guna-guna atau ilmu pelet. Kebenarannya memang sulit dibuktikan. Namun, setidaknya itulah yang diduga dilakukan Sp (22) warga Muntuk Dlingo Bantul . Bermodal kembang kantil dan minyak wangi, ia berhasil membawa kabur seorang perempuan siswi SMA, Na. Bahkan, diduga mereka telah melakukan hubungan layaknya suami istri.

Disebut-sebut, dengan menggunakan kembang kantil dan minyak wangi itulah Sp mampu memperdaya orangtua Na sehingga melepas putrinya untuk dibawa kabur Sp. Orangtua baru tersadar anaknya dibawa lari Sp setelah beberapa hari tidak pulang rumah. Kasus tersebut akhirnya dilaporkan ke polisi.

Kalau mau jujur, antara Sp dan Na sebenarnya telah pacaran. Artinya, mereka suka sama suka. Saat membawa kabur Na, pun tidak ada paksaan. Na bahkan secara suka rela bersedia dibawa ke mana-aman oleh Sp. Tapi, nampaknya Sp lupa atau tidak paham bahwa membawa lari anak di bawah umur adalah tindak kejahatan yang diancam pidana.

Setelah menerima laporan orangtua Na, polisi akhirnya berhasil membekuk Sp di daerah Purworejo. Sp pun dijerat Pasal 332 KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama tujuh tahun. Pasal tersebut berisi ancaman pidana bagi laki-laki yang membawa lari perempuan yang belum dewasa atas kemauan perempuan itu sendiri.

Pasal ini agak spesifik, karena tindakan membawa lari itu justru atas persetujuan orang yang dibawa lari. Mengapa dipidana ? Tak lain karena yang dibawa lari itu masih kategori belum dewasa. Berarti, bila orang yang dibawa lari itu sudah dewasa, pelaku tidak diancam pidana ? Tergantung kasusnya. Sepanjang mereka belum terikat tali perkawinan dengan orang lain, maka hukum positif tidak melarangnya.

Lain halnya bila yang dibawa lari adalah perempuan yang sudah terikat perkawinan dengan orang lain, masalah bisa panjang. Masalah muncul bila suami dari perempuan yang dibawa lari itu mengadu ke polisi dan minta kasusnya diproses hukum. Jika itu terjadi, maka ketentuan yang digunakan adalah Pasal 284 KUHP.

Kembali pada kasus di atas, entah itu ada guna-guna atau tidak, yang jelas orangtua Na kurang perhatian pada putrinya, sehingga menjadi korban pencabulan penjahat kelamin seperti Sp. (Hudono)

Read previous post:
PENYELESAIAN MASALAH HUKUM- Peradi Wates Komitmen Bantu Masyarakat

MANTRIJERON (MERAPI) - Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Advokat Indonesia (DPC Peradi) Wates berkomitmen membantu masyarakat dalam menghadapi permasalahan hukum. Hal

Close