Gara-gara Ternak Disakiti


ilustrasi
ilustrasi

ADAKAH hubungan hewan ternak dengan perkosaan ? Sangat sulit menjawabnya. Namun inilah fakta kasus di Purworejo yang melibatkan YE (39) warga Kecamatan Galur Kulonprogo yang kini berdomisil di Banyuurip Purworejo. Ya, gara-gara hewan ternaknya sering disakiti ST (62), seorang nenek, YE sakit hati dan memperkosanya.

Kasus ini terasa tidak masuk akal, mengapa hanya gara-gara hewan ternak disakiti lantas melampiaskan dengan cara memperkosa nenek yang notabene tetangga sendiri ? Jangan-jangan YE mengalami kelainan jiwa atau kelainan seks. Anehnya, YE sudah berkeluarga.

Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba YE datang ke dapur ST dan memperkosanya setelah gagal membujuknya berhubungan badan. Korban tidak langsung melapor kejadian tersebut ke polisi. Barulah pada kejadian yang kedua, korban melapor ke polisi hingga berlanjut penangkapan tersangka.

Kasus ini tergolong unik, apalagi bila dikaitkan dengan hewan ternak yang kata tersangka sering disakiti ST. Lantas apa urusannya ? Bagi hukum hal itu tidak terlalu penting. Sebab, yang penting adalah faktanya, yakni telah terjadi perkosaan atau persetubuhan paksa dengan korban nenek ST. Lantaran pelaku telah mengakui perbuatannya, kiranya lebih mudah bagi kepolisian untuk memprosesnya. Setidaknya polisi telah memegang dua alat bukti yang cukup.

Kalau YE marah kepada ST karena sering menyakiti hewan ternaknya, mengapa tidak dilaporkan saja ke polisi, tapi malah memperkosanya ? Agaknya YE sedang mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakannya. Tapi upaya itu takkan pernah berhasil karena tidak ada alasan pembenar atas perbuatan YE.

Pertanyaann lainnya, mengapa ST baru melapor setelah dua kali diperkosa ? Tentu ini bukan untuk menyudutkan korban, melainkan untuk menjadi peringatan agar korban perkosaan secepat mungkin melapor agar polisi lebih mudah mendapatkan barang bukti. Sebagai contoh, bila orang menjadi korban perkosaan, hendaknya tidak buru-buru untuk berganti pakaian guna memudahkan polisi mengidentifikasi alat bukti. Visum lebih mudah didapat bila peristiwanya belum lama terjadi.

YE mungkin tidak membayangkan bila perbuatannya diancam pidana berat, yakni 12 tahun penjara sebagaimana diatur Pasal 285 KUHP. Alasan hewan ternaknya disiksa atau disakiti, sangatlah tidak relevan sehingga harus diabaikan. Marah boleh saja, namun bukan dilampiaskan melalui tindakan memperkosa seperti dilakukan YE. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
ilustrasi
MULAI KUMPUL KEBO HINGGA CERAI TANPA LAPOR -Langgar Susila, 6 ASN Diturunkan Pangkat

WONOSARI (MERAPI)–Pemkab Gunungkidul akan memberi sanksi tegas terhadap oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) yang melakukan pelanggaran susila dan menyalahi aturan

Close