Tembak Mati Penjahat

Spread the love


ilustrasi
ilustrasi

KOMPLOTAN perampok bersenjata api yang hendak beraksi di Yogya, berhasil dilumpuhkan petugas Ditreskrimum Polda DIY di wilayah Purworejo Senin pekan lalu. Dalam penangkapan penjahat sadis tersebut, terjadi baku tembak hingga seorang perampok tewas, sedang lainnya luka-luka setelah mobil yang mereka tumpangi menabrak truk. Sementara dari pihak kepolisian tak ada yang terluka.

Langkah tegas kepolisian ini tentu patut diapresiasi. Terlebih para perampok ini tergolong sadis dalam menjalankan aksinya. Mereka sering beraksi di konter HP dengan cara menodongkan pistol kepada korbannya. Setiap beraksi pelaku bisa meraup uang ratusan juta rupiah. Karena pelaku bersenjata api, korban tak berani melawan dan hanya pasrah ketika uangnya dikuras.

Pertanyaannya, dari mana mereka mendapatkan senjata api ? Lantas jenis senjata api yang mereka gunakan seperti apa, rakitan atau bukan ? Inilah yang harus didalami kepolisian. Saat digeledah, polisi menemukan pistol lengkap dengan peluru kaliber 9 yang sangat mematikan.

Diduga kawanan perampok ini merupakan jaringan yang terorganisir. Karena itu polisi harus bekerja ekstra keras untuk mengungkap jaringannya. Penjahat ini bukan amatiran, sehingga masyarakat diminta untuk lebih berhati-hati. Bila menemukan hal mencurigakan, sebaiknya segara lapor polisi. Sebab, polisi-lah yang mampu menghadapi komplotan penjahat bersenjata api ini.

Lantas, bagaimana dengan pelaku yang tewas ditembak polisi ? Biasanya, bila ada penjahat yang ditembak mati petugas, ada pihak-pihak yang mempersoalkannya, terutama dari kalangan LSM pemerhati HAM. Mereka berpendapat, tidak dibenarkan mencabut nyawa orang lain dengan alasan apapun.

Sayangnya, para pengritik ini umumnya tidak memahami situasi di lapangan. Mereka tidak memahami bagaimana bahayanya berhadapan dengan penjahat bersenjata api. Karena itu, sudah ada prosedur tetap (protap) bagi jajaran aparat kepolisian dalam menghadapi situasi genting dan berbahaya.

Petugas diizinkan mengambil langkah terakhir, yaitu menembak mati, bila kondisinya memang sangat mengancam nyawa petugas. Sebab, bila langkah ini tidak diambil, maka petugas itu sendiri yang bakal menjadi korban. Dengan begitu, langkah menembak mati penjahat, tetap ada aturannya, dan tidak boleh gegabah. Tindakan tersebut (tembak mati) merupakan langkah terakhir ketika sudah tidak ada upaya lainnya. Masyarakat tentu mendukung langkah kepolisian untuk bertindak tegas terhadap penjahat sadis yang tidak segan-segan melukai, bahkan membunuh, korbannya. (Hudono)

Read previous post:
Kemenpora Prioritaskan Atlet Berpeluang Emas ke SEA Games Filipina 2019

JAKARTA (MERAPI)- Prestasi Kontingen Indonesia yang sukses menembus lima besar Asian Games Jakarta-Palembang 2018 mengubah visi dan misi Kementerian Pemuda

Close