Maling Pakai Ilmu Sirep


ilustrasi
ilustrasi

PERNAH dengar ilmu sirep ? Umumnya orang akan mengaitkan dengan aksi kejahatan, khususnya pencurian seperti yang terjadi di Semarang baru-baru ini yang menimpa korban Ny Partini (56). Konon, agar aksinya tidak ketahuan, penjahat spesialis pencuri ini mempelajari ilmu sirep kepada orang pintar atau dukun. Tujuannya, saat pelaku beraksi, korban dalam kondisi terlelap tidur. Barulah keesokan harinya korban sadar telah tidur kebablasen sehingga tak mengetahui rumahnya telah dikuras maling.

Boleh percaya boleh tidak. Yang jelas, bagi penjahat, ia akan mencari cara apapun agar aksinya berhasil. Ada pula cerita soal keampuhan ilmu sirep yang membuat korbannya tiba-tiba mengantuk tak tertahankan sehingga tertidur pulas. Padahal, biasanya tidak demikian. Biasanya mereka tidur setelah pukul 00 atau dini hari.

Ilmu sirep pun menjadi sangat populer di dunia kejahatan, khususnya permalingan. Ilmu ini selalu dikonotasikan negatif, karena digunakan untuk kejahatan. Padahal, karakter ilmu tidak selalu demikian, melainkan tergantung pada orang yang menggunakannya. Sebut saja ilmu hipnotis. Ia bisa digunakan untuk apa saja, baik yang bersifat positif maupun negatif. Negatif bila ilmu itu digunakan untuk menghipnotis orang, kemudian merampas barangnya. Sedang menjadi positif bila seorang terapis menghipnotis pasiennya agar sembuh.

Kembali pada ilmu atau aji sirep, terlepas percaya atau tidak, tetap dapat diatasi. Sehebat apapun ilmu sirep, bila calon korbannya selalu waspada, maka tidak akan mempan. Kalaupun ilmu itu menggunakan jin, maka agar masyarakat tidak menjadi korban, dianjurkan membaca doa sebelum tidur. Bagi orang Islam misalnya, sebelum tidur dianjurkan membaca surat Al Ikhlas dan Ayat Kursi.

Dalam terminologi hukum, sama sekali tidak dikenal ilmu sirep. Hukum hanya mengenal tindak pidana pencurian. Bahwa pelaku menggunakan ilmu sirep atau tidak, tidaklah penting dalam hukum. Bila kasusnya disidangkan di pengadilan, maka jaksa cukup membuktikan bahwa terdakwa telah mengambil barang milik orang lain secara melawan hukum dengan tujuan untuk dimiliki. Soal bagaimana caranya mengambil barang tersebut, itu urusan belakangan, apakah menggunakan ilmu sirep atau ilmu maling.

Bila maling tersebut mencuri dengan cara masuk pekarangan kemudian menjugil pintu, maka ancaman hukumannya lebih berat ketimbang pencurian biasa. Jaksa tak diberi beban untuk membuktikan bahwa maling tersebut menggunakan ilmu sirep atau sejenisnya. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Beli Sabu, Sopir Taksi Online Diadili

SLEMAN (MERAPI) - Seorang pecandu sabu-sabu, Srt (42) warga Pleret Bantul mulai diajukan ke muka persidangan Pengadilan Negeri (PN) Sleman,

Close