Modus Edar Pil Koplo


ilustrasi
ilustrasi

MESKI sudah ada regulasi yang ketat mengenai peredaran obat daftar G, atau di kalangan pengguna sering dikenal sebagai pil koplo, namun tetap saja aparat kecolongan. Berbeda dengan narkoba, bila obat ini penggunaannya tidak tepat, tentu sangat membahayakan bagi pemakai. Lain lagi dengan mereka yang menurut petunjuk dokter harus mengonsmsi obat ini, justru akan cocok dan sembuh. Artinya, obat daftar G hanya diperuntukkan bagi pasien, bukan untuk orang sehat.

Kenyataannya, tidak sedikit terjadi penyalahgunaan terhadap obat daftar G. Di kalangan penyalahguna, umumnya remaja, obat ini justru digunakan untuk teler atau mabuk, sehingga justru merusak kesehatan. Untuk itulah aparat kepolisian sampai saat ini intensif merazia pengguna obat-obat terlarang, khususnya daftar G.

Sesuai aturan, obat ini hanya bisa ditebus dengan resep dokter. Nah, persoalannya, mengapa pil koplo ini bisa berada di tangan remaja yang sebenarnya tidak menderita sakit apa-apa ? Polisi harus jeli untuk menelisiknya. Sekadar contoh, di Temanggung beberapa hari lalu polisi menangkap pengedar pil koplo. Dari mana ia mendapatkan pil tersebut ? Usut punya usut ternyata dari dokter. Kok bisa ? Ya, pelaku Fachri (21) warga Mergowati Kecamatan Kedu Temanggung berpura-pura sakit kemudian ke dokter dan mendapatkan resep obat daftar G. Kemudian resep tersebut ditebus dan obatnya dijual kepada pelanggan.

Agaknya, Fachri sudah cukup lama menggunakan modus ini demi mendapatkan pil koplo. Tentu kita tidak bisa serta merta menyalahkan dokter yang memberikan resep obat daftar G. Sebab, sangat boleh jadi dokter tadi terkecoh dengan penampilan Fachri yang secara klinis seperti orang sakit beneran, padahal itu hanya akting belaka.

Menghadapi hal demikian, sebaiknya para dokter tidak dengan mudah memberikan resep obat daftar G. Kalaupun hendak memberi, harus benar-benar dicek apakah pasiennya benar-benar membutuhkan atau tidak. Ini cara yang paling sederhana untuk mengantisipasi penyalahgunaan obat daftar G.

Kementerian Kesehatan juga harus proaktif mengawasi peredaran obat daftar G secara ketat. Mereka perlu menerjunkan personelnya untuk memantau sediaan farmasi ini di apotek-apotek yang tersebar di DIY khususnya. Bila ditemukan pelanggaran, harus segera ditindaklanjuti. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
AJUKAN BANDING KE PENGADILAN TINGGI- Suwarsi Dkk Berharap Putusan Bebas

YOGYA (MERAPI) - Setelah menunggu selama tujuh hari, akhirnya terdakwa yang mengklaim ahli waris Paku Buwono (PB) X Suwarsi dkk

Close