Tentara Pun Dijambret


ilustrasi
ilustrasi

PENJAHAT sekarang tidak pilih-pilih sasaran. Begitu ada kesempatan, langsung beraksi, tak peduli siapa yang menjadi korban. Itu pula yang terjadi di Jalan Piyungan-Prambangan pekan lalu, seorang penjambret YL (29) warga Pelem Kidul Baturetno Banguntapan Bantul menjambret pengendara motor yang kebetulan adalah seorang anggota TNI AU, Fajar Ismail (23), warga Bekasi.

Saat itu ia sedang membonceng teman perempuannya dan tahu-tahu dipepet lelaki tak dikenal yang langsung menjambret tas teman perempuannya. Sayangnya Fajar gagal memburu pelaku yang langsung tancap gas usai menjambret tas berisi HP dan uang Rp 400 ribu. Fajar pun langsung melaporkan kejadian tersebut ke polisi. Hebatnya, polisi begerak cepat dan berhasil mengidentifikasi pelaku hingga akhirnya meringkus YL di rumahnya.

Langkah sigap jajaran kepolisian yang dipimpin Kapolesk Prambanan Kompol Rini Anggraini dengan Kanit Reskrim Polsek Prambanan, Iptu Sularsihono, patut diapresiasi karena dalam waktu relatif cepat berhasil meringkus pelaku penjambretan. Kasus tersebut tentu menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati ketika bepergian menggunakan sepeda motor. Pesannya, jangan menaruh barang berharga di tas yang dicanglong, karena bisa mengundang penjahat.

Seperti kita tahu, dalam teori kriminologi ada adagium, orang melakukan kejahatan karena ada faktor kesempatan. YL mungkin tidak menjambret bila tidak ada kesempatan. Namun, lantaran kesempatan itu muncul di depan mata, yakni seorang perempuan yang mencangklong tas di samping saat membonceng, memudahkan YL beraksi.

Berdasar keterangan, saat itu YL memang sedang mencari-cari kesempatan untuk menjambret. Andai kesempatan itu tidak ada, mungkin ia tak jadi menjambret, tapi boleh jadi ia melakukan kejahatan lainnya demi mendapatkan uang. Sebab, menurut pengakuannya, ia menjambret karena terdesak kebutuhan dana cepat untuk mengangsur kredit motor.

Penjahat manapun akan pandai bikin alasan ketika ketangkap. Harapannya, dengan alasan tersebut ia akan terbebas atau setidak-tidaknya hukumannya menjadi ringan. YL yang kini dalam proses kepolisian nampaknya tak lagi bisa berkelit seperti ketika ia pertama kali hendak ditangkap. Pada akhirnya, ketika bukti-bukti itu ditunjukkan, YL pun tak bisa berbuat apa-apa dan terlihat hanya pasrah.

Penjahat memang harus diberi pelajaran. Dan pelajaran yang paling tepat adalah proses hukum hingga yang bersangkutan dibina di lembaga pemasyarakatan. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
LP3M UMY GELAR PELATIHAN- Banyak Warga Belum Paham Ekonomi Syariah

PLERET (MERAPI) - Untuk membantu masyarakat menghadapi sengketa ekonomi syariah, Lembaga Penelitian Publikasi dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LP3M

Close