Prostitusi itu Penyakit


ilustrasi
ilustrasi

JUDUL di atas sengaja kita angkat untuk menunjukkan betapa prostitusi itu adalah penyakit yang sangat membahayakan masyarakat. Karena penyakit, tentu harus ada obatnya. Obatnya tak cukup hanya antibiotik atau obat kimia, tapi juga obat rohani atau mental-kejiwaan. Agar obat itu manjur, maka harus diminum secara rutin dan disiplin.

Kira-kira itulah fenomena prostitusi yang kenyataannya sulit diberantas. Memberantas seratus persen tidaklah mungkin. Upaya yang bisa dilakukan adalah dengan meminimalkan praktik prostitusi. Tentu dengan catatan, aparat penegak hukum harus bekerja keras melakukan
razia secara rutin dan konsisten.

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan terbongkarnya praktik prostitusi secara online yang melibatkan seorang wanita hamil, CK (33) warga Depok Sleman dan seorang mahasiswa, HP (25) yang keduanya berperan sebagai mucikari. CK menawarkan PSK melalui WA sedang HP melalui akun Twitter. Untuk membuka akun dengan password tertentu konsumen diharuskan membayar Rp 300 ribu untuk kemudian bisa memilih ‘angel’ atau PSK yang ditawarkan HP. Praktik kotor yang sudah berjalan dua tahun ini berhasil dibongkar Polda DIY dan keduanya kini tengah menjalani proses hukum.

Pada dasarnya prostitusi adalah sama saja, baik melalui online seperti WA, Twitter, maupun melalui cara konvensional (transaksi langsung) . Intinya adalah menjual jasa seks, yakni antara mucikari sebagai pengelola dan pelanggan atau konsumen. Begitu pula terkait dengan tempat atau kejadian perkara, baik di hotel berbintang, hotel melati, pinggir pantai, esensinya sama saja. Sayangnya perlakuannya berbeda.

Di hotel berbintang terkadang sulit dilacak kalau tidak ada yang melapor. Pun hampir tak pernah ada razia prostitusi di hotel berbintang. Sebab, bila ini terjadi, niscaya penghuni hotel akan kabur karena sangat terganggu privasinya. Berbeda dengan hotel melati atau losmen, razia bisa dilakukan sewaktu-waktu.

Kembali soal prostitusi online, memang bukan fenomena baru. Mahasiswi rela menjadi PSK hanya karena mengejar uang. Mereka tak lagi mempedulikan cara yang ditempuh. Tentu kasus ini tak bisa digeneralisasi, karena masih banyak mahasiswi yang baik, yang menjunjung kesusilaan dan sopan santun. Mahasiswi yang diperjualbelikan HP lebih tepat kita sebut oknum. Lantas bagaimana cara menangkalnya ? Selain menggunakan cara-cara polisional, masyarakat harus mengembangkan budaya malu, yakni malu bila terlibat prostitusi. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
POLDA DIY-KANWIL KEMENAG GELAR FGD- Tangkal Faham Radikalisme

MLATI (MERAPI)- Radikalisme ditengarai sudah masuk ke wilayah Hukum Polda DIY. Hal itu ditandai dengan adanya organisasi masyarakat (ormas) yang

Close