Tipuan Pengembang Perumahan


ilustrasi
ilustrasi

KEBUTUHAN perumahan di DIY terus meningkat. Tentu ini menjadi lahan subur bagi pengembang perumahan. Mereka berusaha menarik minat konsumen untuk membeli perumahan dengan berbagai kemudahan, mulai dari uang muka hingga cicilan pembayaran. Iklan pun disebar melalui berbagai media, baik media konvensional maupun media sosial (medsos). Tapi dari sekian banyak pengembang, ada saja yang nakal, bahkan semua yang ditawarkan fiktif.

Agaknya inilah yang dilakukan AW (50), warga Ungaran Timur Semarang. Ia berhasil memperdaya setidaknya 9 orang untuk membeli rumah yang ia tawarkan. Sekurangnya ia telah meraup Rp 2,4 miliar dari calon konsumennya. Namun, apa yang terjadi kemudian ? Tak ada satupun yang memperoleh rumah seperti dijanjikan AW. Bahkan, lokasi yang ditawarkan AW fiktif. Jika demikian, apakah ini karena kelihaian AW dalam memperdaya korban, atau memang korbannya yang teledor ? Baleh jadi keduanya.

Atas laporan korban, AW akhirnya berhasil dibekuk dan mengaku uang setoran korban telah digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Mengapa dengan mudahnya korban terkecoh janji-janji AW. Boleh jadi, tawaran AW sangat menggiurkan. Bahkan, dia menyebar brosur di semua tempat, termasuk di bandara. Tak hanya itu, ia juga tampil di seminar-seminar. Tak tahunya semua hanya fiktif belaka. Korban umumnya berasal dari luar Yogya. Mungkin mereka ingin berinvestasi atau membelikan rumah untuk anaknya.

Modus yang digunakan AW sebenarnya sangat sederhana. Konsumen saja yang tidak cermat dan gampang percaya. Padahal, untuk membeli properti seperti perumahan, masyarakat harus cek lapangan, benar tidak informasi yang ditulis di brosur. Setelah itu dicek track record pengembangnya, bermasalah atau tidak. Setelah itu baru harganya.

Nah, terkadang orang tertarik terlebih dahulu pada harga yang murah atau cicilan yang enteng. Padahal, di situlah letak jebakannya. Begitu konsumen terperangkap masuk, pengembang jahat ini akan memainkannya sampai uang konsumen benar-benar terkuras. Setelah mendapatkan uang, mereka akan menghilang dan beorperasi di tempat lain.

Karena pelaku sudah tertangkap, maka para korban pasti berharap uangnya kembali. Lantas bagaimana bila uang itu sudah habis digunakan AW ? Itulah persoalannya, sehingga ditempuh cara-cara perdata, kalau perlu ajukan gugatan secara perdata di pengadilan. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
SEBAGAI SALAH SATU PERBUATAN KORUPSI- JCW Kritik Anggota Dewan Sering Membolos

YOGYA (MERAPI)-Jogja Corruption Watch (JCW) menilai di tahun politik ini banyak anggota dewan tingkat kabupaten/kota maupun provinsi di DIY tidak

Close