Siswa SD Dianiaya


ilustrasi
ilustrasi

DUNIA anak-anak sangatlah berbeda dengan dunia remaja atau orang dewasa. Anak-anak harus mendapat perlindungan hukum yang ekstra ketat dibanding orang dewasa. Oleh karena itulah UU mengancam sanksi yang lebih berat terhadap kejahatan pada anak-anak dibanding kejahatan pada
orang dewasa.

Beberapa hari lalu, tiga siswa SD di Mberi Tamansari Kraton Yogya dianiaya remaja putus sekolah, Rd (18), warga Kasihan Bantul. Diduga peristiwa tersebut terjadi karena salah paham. Pihak kepolisian membenarkan bahwa di antara mereka terjadi kesalahpahaman biasa.
Seperti apa ? Tidak ada penjelasan detail.

Namun, atas tindakannya itu polisi menahan Rd, dan hendak memprosesnya hingga perkara diajukan ke pengadilan. Dengan melakukan penahanan, dapat diartikan bahwa kejahatan yang dilakukan Rd serius. Kita masih ingat kasus pencabulan terhadap anak beberapa pekan lalu di suatu wilayah, tersangka tidak ditahan karena dianggap kooperatif. Padahal kasus pencabulan terhadap anak sangatlah serius karena ancaman pidananya 15 tahun. Tentu langkah tidak menahan pencabul anak perlu ditinjau lagi.

Kembali pada kasus penganiayaan terhadap tiga siswa SD, kiranya tepat bila polisi menahan tersangka. Tidaklah imbang antara pelaku yang notabene telah berusia 18 tahun dengan korban yang rata-rata masih berusia 11 atau 12 tahun. Anak-anak ini tak akan menang melawan Rd
yang telah menginjak dewasa.

Apapun dalihnya, penganiayaan terhadap anak-anak SD tidak dibenarkan. Pelaku bakal dijerat UU Perlindungan Anak yang notabene ancaman hukumannya jauh lebih berat ketimbang penganiayaan terhadap orang dewasa. Penahanan yang dilakukan kepolisian terhadap Rd setidaknya bisa menjadi syok terapi kepada yang bersangkutan. Pun dengan menahannya, pelaku tak dapat mengulangi perbuatannya.

Kiranya tak ada alasan pembenar bagi siapapun untuk menganiaya anak. Kalau benar kasus tersebut terjadi karena kesalahpahaman, tentu faktor itu tidak terlalu penting, mengingat pola pikir anak-anak sangat berbeda dengan orang dewasa. Jadi, terminologi kesalahpahaman kiranya tidak tepat diterapkan dalam meneropong kasus ini.

Apapun yang dipikirkan anak-anak, tidak boleh dihakimi, apalagi sampai dijadikan sasaran main hakim sendiri seperti dilakukan Rd.
Tindak penahanan mungkin akan membuat Rd tersadar, atau paling tidak paham, bahwa tindakannya menganiaya siswa SD adalah melanggar hukum, apapun alasannya. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Gudang elektonik di Wonosari yang dibobol maling.(MERAPI-BAMBANG PURWANTO)
GUDANG ELEKTRONIK KEBOBOLAN- Belasan Televisi LED Digondol Maling

WONOSARI (MERAPI)- Aksi pencurian dengan pemberatan (curat) di Gunungkidul makin nekat. Sebuah gudang barang elektronik milik Maryono (40) yang terletak

Close