Siswa Melawan Guru


ilustrasi
ilustrasi

HEBOH siswa SMK mendorong gurunya yang sempat viral di media sosial (medsos), sesungguhnya bisa menjadi cermin bagi masyarakat kita. Betapa norma sopan-santun kini sudah mulai memudar di kalangan generasi muda. Meski akhirnya masalah tersebut bisa diselesaikan secara damai, namun pelajaran penting yang bisa diambil adalah, ada yang keliru dalam sistem pendidikan untuk anak-anak kita.

Fenomena yang terjadi di SMKN 3 Yogya beberapa hari lalu itu boleh jadi mewakili sebagian sekolah yang ada di Yogya. Mereka (para siswa) sebenarnya punya jiwa berontak ketika propertinya, dalam hal ini HP, diambil paksa dengan alasan apapun. Kalau kita cermati memang tidak ada baku hantam di antara mereka, namun hanya saling dorong. Hanya saja, salah seorang siswa, yakni Os, terlihat agresif mendorong gurunya untuk merebut HP yang dirampasnya.

Sebelumnya, sudah ada aturan bahwa pada saat ulangan, siswa tidak diperbolehkan membawa HP. Namun Os melanggarnya hingga sang guru, Sujiyanto (58), merampas HP milik Os. Os yang tidak terima berusaha merebutnya dan mengambil tas guru. Adegan dorong-mendorong itu direkam siswa lain dan menjadi viral di medsos. Apa yang terjadi kemudian ?

Mudah ditebak: antiklimaks. Ya, sang siswa kemudian meminta maaf kepada gurunya. Kepala sekolah turun tangan dan persoalan dianggap selesai. Polisi yang menerima laporan kejadian tersebut juga akhirnya memakluminya. Tentu persoalannya bukan sekadar meminta maaf, melainkan mengapa peristiwa itu mesti terjadi ? Mengapa Os bersikap demikian kepada gurunya ? Apa masalahnya ? Mestinya akar masalah ini yang harus dibongkar sehingga tidak terulang di kemudian hari. Kalaupun Os meminta maaf karena didorong faktor di luar dirinya, memang tidak terlalu kita persoalkan.

Kita hanya mempersoalkan relasi antara guru dan murid. Para guru atau pamong tak perlu gengsi untuk melakukan introspeksi, mengapa ada salah seorang muridnya yang berperilaku tidak santun. Sekadar menengok persekolahan pada zaman dulu, tak ada siswa yang berani kepada gurunya, apalagi sampai mendorong-dorong segala. Dipelototi guru saja sudah setengah mati takutnya. Namun kondisi sekarang sudah berbeda. Kiranya para guru harus kembali meninjau kurikulum budi pekerti yang diajarkan kepada siswanya. Atau, jangan-jangan tidak ada materi budi pekerti ? (Hudono)

Read previous post:
Pengedar Pil Koplo Dituntut 9 Bulan

BANTUL (MERAPI) - >Pengedar pil koplo, AMH alias Mamil (19) warga Dusun Mertosanan Kulon Potorono Banguntapan Bantul dituntut 9 bulan

Close