Main Tusuk di Jalanan


ilustrasi
ilustrasi

JALAN raya terkadang menjadi tempat yang mengerikan, bahkan bisa jadi tempat pertumpahan darah. Tentu bukan jalannya yang salah, tapi orang yang menggunakan jalan tersebut. Karena itu tertib berlalu lintas sangatlah penting untuk ditegakkan. Bahkan, hal-hal yang bersifat sepele bisa berbuntut serius dan anarkis.

Seperti peristiwa yang terjadi di Jalan Affandi Gejayan, Santren, Caturtunggal, Minggu malam pekan lalu, seorang sopir taksi online Angga Nur Istianto (23), warga Medari Tegal, Caturharjo Depok Sleman menjadi korban penusukan pengendara motor. Hanya gara-gara kendaraan mereka bersenggolan terjadi cekcok yang berujung penusukan. Angga kena tusuk pisau bayonet di bagian leher, kemudian pelaku kabur. Siapa pelaku penusukan ? Polisi masih mengejarnya.

Dari peristiwa tersebut terlihat bahwa pelaku sebelumnya memang telah membawa senjata tajam pisau bayonet. Mengapa membawa pisau ? Entahlah, apakah untuk berjaga-jaga atau untuk keperluan lain. Polisi harus mengungkap kasus tersebut, misalnya, apakah pelaku adalah anggota TNI yang notabene diberi kewenangan membawa senjata, atau warga sipil.

Hal penting yang perlu diperhatikan, orang yang membawa senjata tajam, entah itu pisau bayonet, pedang atau senjata tajam lainnya, tanpa izin, diancam sanksi pidana sebagaimana diatur UU Darurat Tahun 1951. Bahkan, sekalipun mereka mengaku hanya untuk berjaga-jaga, tetap diancam sanksi pidana.

Bisa jadi di antara pengguna jalan di malam hari ada yang membawa senjata tajam. Mereka tidak ketahuan bila tidak sedang digelar razia. Bila kondisi ini dibiarkan, orang bebas membawa senjata tajam di jalanan, niscaya tak ubahnya seperti kondisi di hutan belantara yang tidak ada hukumnya. Dalam kondisi tersebut, berlaku hukum rimba, siapa kuat dialah yang menang atau menguasai.

Karena itu, polisi harus membersihkan jalanan dari segala tindak pidana apapun. Jangan biarkan para penjahat jalanan beraksi sekehendak hati. Polisi adalah aparatur negara yang ditugasi antara lain menciptakan kondisi yang kondusif di jalanan, termasuk membersihkan jalanan dari aksi klitih.

Kasus yang menimpa sopir taksi online Angga kebetulan tidak terdeteksi aparat kepolisian, sehingga terjadi penusukan. Kita mungkin maklum mengingat jumlah personel kepolisian yang terbatas. Padahal, bila mencermati kasusnya, tidak ada peristiwa senggolan, melainkan hanya saling kaget karena mobil dan motor dalam posisi berhimpitan. Lantaran emosi inilah kemudian terjadi penusukan. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
PT KREASI MERASA BENAR SENDIRI-Mediasi di Pengadilan Gagal

BANTUL (MERAPI) – Mediasi dalam perkara gugatan perbuatan melawan hukum yang diajukan Direktur Utama PT Fajartimur Barayatama, Rudy Adi Suryono

Close