Menertibkan Knalpot Blombongan


ilustrasi
ilustrasi


HAMPIR semua orang tidak suka mendengar suara knalpot blombongan yang meraung-raung memekakkan telinga. Mereka umumnya hanya menggeruti atau tutup telinga. Biasanya, ini terjadi saat musim kampanye. Bagi sebagian peserta konvoi seolah tidak lengkap tanpa knalpot blombongan. Akhirnya muncul imej konvoi identik dengan knalpot blombongan.

Petugas pun mulai menertibkan knalpot blombongan. Mereka yang tidak tertib dan menggunakan knalpot blombongan langsung ditilang, karena perlengkapan sepeda motornya tak sesuai standar. Langkah penertiban knalpot blombongan ini pun mendapat dukungan luas masyarakat. Mereka juga berharap aparat kepolisian tidak tebang pilih dalam menertibkan knalpot blombongan.

Lain lagi yang dialami kakak beradik warga Umbulharjo dalam menyikapi suara knalpot blombongan. Saat peserta konvoi yang menggunakan knalpot blombongan melintas di kawasan Umbulharjo, kakak beradik ini, yakni Ju (34) dan PA (16), merasa jengkel dan mengambil senjata tajam serta air gun, kemudian membacok peserta yang berada di barisan paling belakang. Korban yakni Vrf (22) dan Eh (38) pun menjadi sasaran bacok dan tembakan air gun.

Tidak terlalu sulit bagi polisi untuk menangkap kedua pelaku kakak-beradik itu, setelah mendengar keterangan saksi mata. Agaknya, kedua orang tersebut sudah sangat dikenal masyarakat sekitar. Namun saat oleh TKP, polisi tidak menemukan clurit yang digunakan untuk membacok dan air gun yang dipakai menembak. Diduga pelaku langsung membuang kedua senjata tersebut untuk menghilangkan jejak.

Tentu wajar bila kedua orang tersebut jengkel mendengar suara blombongan. Namun cara mengungkapkan kejengkelannya keliru. Mengapa harus membacok dan menembak dengan air gun ?Akhirnya mereka justru bermasalah dengan hukum dan diancam Pasal 170 KUHP tentang penganiayaan di tempat umum yang melibatkan dua pelaku atau lebih dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.

Biarlah polisi yang menindak pengguna knalpot blombongan. Aksi main hakim sendiri, dengan cara membacok dan sebagainya justru merugikan diri sendiri karena tindakan tersebut tidak seimbang dengan asal masalahnya. Pelanggaran tak boleh diselesaikan dengan pelanggaran pula. Menggunakan knalpot blombongan adalah pelanggaran, namun membacok pengguna knalpot blombongan jauh lebih melanggar dan ancaman hukumannya lebih berat. Dengan kata lain, kalau hendak menertibkan pelanggaran haruslah dengan cara yang tidak melanggar hukum. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
MERAPI-ATIEK WIDYASTUTI Lubang besar yang muncul di Kali Kuning jadi tontonan warga.
Air Tersedot Kali Kuning Dipicu Fenomana Alam

SLEMAN (MERAPI - Sebuah lubang cukup besar berukuran sekitar 4 x 3 meter muncul di tengah aliran Sungai Kuning di

Close