Kecil-kecil Mahir Nyolong


ilustrasi
ilustrasi

KECIL-KECIL sudah pandai mencuri,kalau besar mau jadi apa ? Begitu kira-kira pertanyaan yang patut diajukan terkait kasus curanmor yang melibatkan 3 anak SMP di Desa Pacor Kecamatan Kutoarjo Purworejo beberapa hari lalu. Mereka adalah JT (16), KA (16), dan AS (15) semua berstatus pelajar SMP hingga putus sekolah.

Agaknya mereka belajar dari orang dewasa. Mereka mencari sasaran motor yang diparkir di pinggir sawah. Mungkin sudah menjadi kebiasaan warga atau petani yang membawa motor ke sawah, tidak mengunci kendaraannya, bahkan acap kunci tertinggal di motor, lantaran yakin kondisinya aman. Situasi itulah yang dimanfaatkan ketiga bocah tersebut untuk beraksi.

Seperti penjahatan pada umumnya, ketika ditangkap mereka mengaku menyesal dan tidak akan mengulangi perbuatannya. Benarkah ? Masih patut diragukan. Pasalnya, berdasar interogasi petugas, mereka sudah empat kali terlibat pencurian kendaraan bermotor. Baru kali ini mereka kena batunya dan berurusan dengan hukum.

Boleh jadi mereka paham, bila aksinya ketahuan atau tertangkap basah petugas, tak akan menerima hukuman yang berat seperti halnya orang dewasa. Atau bahkan, dengan pertimbangan tertentu, mereka bisa dibebaskan. Setelah itu, tak ada jaminan mereka insyaf. Tak tertutup kemungkinan mereka akan mengulangi perbuatan serupa.

Memang UU Perlindungan Anak dan UU Sistem Peradilan Pidana Anak, memperlakukan anak yang terlibat tindak pidana secara khusus. Mereka tak mungkin dihukum seperti orang dewasa, bahkan maksimal separoh dari ancaman pidana orang dewasa. Belum lagi bila kepolisian menerapkan diversi atau penyelesaian di luar hukum, niscaya anak tersebut akan melenggang.

Sebenarnya diversi boleh-boleh saja, namun harus selektif. Kalau anak tersebut sudah berulang kali melakukan tindak pidana, mestinya tak perlu diberikan diversi, melainkan dipidana sesuai kapasitasnya sebagai anak yang belum dewasa. Ini dimaksudkan untuk memberi efek jera kepada pelaku. Sebab, bila ditempuh langkah diversi, dikhawatirkan tidak menimbulkan efek jera dan mereka potensial mengulangi perbuatannya.

Kalaupun hendak diambil langkah diversi, orangtua mereka harus menandatangani perjanjian yang intinya mereka juga harus bertanggung jawab bila anaknya melakukan kejahatan. Sebab, diduga kuat orangtua abai terhadap pergaulan anaknya, sehingga membiarkan mereka berkeliaran di jalan dan berbuat onar, mencuri dan sebagainya. (Hudono)

Read previous post:
MERAPI-ISTIMEWA Mas Pandu (kanan) bertatap muka dengan masyarakat yang diwakilinya
CALEG DPR RI DAPIL DIY Andika Pandu Komitmen Bangun Perekonomian Masyarakat

NIAT Andika Pandu Puragabaya untuk maju ke senayan sudah bulat. Bukan semata-mata keinginan hati nurani guna memberikan pengabdiannya kepada masyarakat,

Close