Keamanan Kota Yogya


ilustrasi
ilustrasi

TERKADANG ada ironi ketika kita menyebut Yogya sebagai kota yang aman. Sebab, pada saat bersamaan, justru terjadi aksi pembacokan, entah itu dilakukan cah klitih atau lainnya. Namun, untuk mengatakan Yogya tidak aman, juga kurang tepat. Mengapa ? Karena kasus kekerasan baik itu pembacokan maupun aksi kekerasan lainnya, tidak terjadi secara masif, melainkan hanya sporadis dan di saat-saat tertentu saja.

Kita yakin, di kota yang mengklaim sebagai kota aman, tetap saja terjadi aksi kekerasan, meski skalanya kecil. Artinya, kasus kekerasan yang terjadi di manapun, termasuk di Yogya, tak bisa digeneralisasi bahwa semua daerah perkotaan tidak aman. Bila Yogya mendapat predikat kota yang tidak aman, niscaya tidak ada wisatawan yang datang karena mereka takut. Nyatanya, wisatawan terus datang meski jumlahnya stagnan atau sedikit berkurang.

Yang penting adalah bagaimana kita memikirkan agar Yogya benar-benar menjadi daerah yang aman dan nyaman. Langkah antisipasi, misalnya dengan melakukan patroli secara rutin, kiranya perlu dikedepankan.

Sementara masyarakat juga dituntut untuk menjaga kampung masing-masing. Harapannya, bila ada serangan dari luar, entah itu dari cah klitih atau lainnya, bisa segera ditanggulangi. Kita sempat terkejut ketika ada penjual sate, Marjuin (17), warga Notoprajan Ngampilan Yogya disabet pedang oleh orang tak dikenal di Taman Parkir Ngabean sisi selatan Minggu malam pekan lalu. Diduga pembacokan itu akibat salah paham. Namun polisi belum berhasil mengungkap motif pembacokan tersebut.

Apa salah Marjuin sehingga menjadi korban pembacokan saat berjualan sate bersama ayahnya ? Lagi-lagi motifnya tidak jelas, bahkan korban juga tidak mengenal pelaku. Saat itu pelaku hanya meminjam kursi, dan dituruti. Namun, setelah beberapa lama, ketika kursi diminta korban untuk jualan, pelaku marah-marah hingga terjadi keributan. Tanpa diduga pelaku langsung mengeluarkan pedang dan membacok Sarjuin mengenai dahi hingga bersimbah darah. Pelaku pun kabur dan korban ditolong warga untuk dibawa ke rumah sakit.

Melihat kronologinya rasanya memang tidak masuk akal, mengapa tiba-tiba pelaku membacok tanpa alasan jelas. Padahal, korban sudah meminjamkan kursi untuk digunakan. Begitu gampangnya orang tersulut emosi, kemudian bertindak nekat. Logikanya, penjual sate tak mungkin berbuat macam-macam karena lokasi berdagangnya tetap, sehinggaakan mudah diincar bila berbuat macam-macam. Jadi, polisi harus mengungkap apa motif pelaku membacok penjual sate. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Kyai Beleh yang Ngrejekeni

DI dunia pedalangan, ada banyak fenomena menarik, baik itu berkaitan dengan wayangnya, gamelan, maupun mantra dan keris yang sering digunakan

Close