Merekayasa Perampokan

ilustrasi
ilustrasi


PENJAHAT terkadang banyak akal untuk meraup untung. Bahkan ada pelaku kejahatan malah berpura-pura menjadi korban kejahatan. Bila polisi tak jeli niscaya bakal terkecoh. Namun secanggih-canggih penjahat berulah, tetap ada celah mengungkapnya.

Contohnya dilakukan Gb (26), warga Gambiran Pandeyan Umbulharjo yang bikin skenario motornya dirampok. Dalam skenario itu, ia dianiaya perampok kemudian motornya dibawa kabur. Agar meyakinkan, ia pun menyayat-nyayat tangannya dengan kater kemudian minta visum rumah sakit. Setelah itu Gb melapor ke polisi.

Untung polisi jeli dan berhasil mengungkap kejanggalan laporan Gb, baik menyangkut kronologi maupun saksi-saksi di lapangan. Setelah didesak akhirnya Gb mengaku telah membuat laporan palsu ke polisi. Hal itu ia lakukan untuk menutupi aksinya menggelapkan motor. Kini, bukannya ia untung, tapi malah buntung dan harus masuk penjara mulai Rabu pekan lalu.

Membuat laporan palsu tentang terjadinya tindak pidana padahal tidak ada peristwanya, dapat dijerat Pasal 220 KUHP tentang laporan palsu dengan ancaman pidana maksimal satu tahun empat bulan penjara. Gb mungkin tidak mengira aksi tipuannya bakal ketahuan petugas. Boleh jadi ia juga tidak mengira bahwa membuat pengaduan atau laporan palsu adalah melanggar hukum.

Namun hukum tidaklah mentolerir kondisi tersebut. Artinya, orang tidak bisa beralasan tidak tahu hukumnya dengan harapan terbebas dari jeratan hukum. Tahu atau tidak tahu hukum, tetap dianggap tahu hukum. Begitulah asasnya, bahwa setiap orang dianggap tahu undang-undang (hukum). Sebab, bila ketidaktahuan hukum bisa menjadi alasan pemaaf atau pembenar perbuatan, sehingga yang bersangkutan tidak dihukum, niscaya orang akan beramai-ramai melanggar hukum. Begitu ditangkap, ia akan mengatakan tidak tahu hukumnya.

Gb bakal dijerat pasal berlapis. Selain disangka dengan Pasal 220 KUHP tentang laporan palsu, ia juga dijerat Pasal 372 KUHP tentang penggelapan, yang notabene merupakan tindak pidana awal sehingga Gb melakukan pelaporan palsu. Agaknya, Gb sudah kehilangan cara untuk mendapatkan uang, hingga kemudian melakukan rekayasa perampokan.

Modus yang digunakan Gb sebenarnya tidaklah baru, namun polisi tentu jauh lebih canggih dalam menanggulangi, sehingga pelaku gagal melancarkan aksinya. Maunya mendapat simpati, tapi malah habis-habisan. Barang bukti motor dan uang disita, sementara badan harus mendekam di penjara. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
PENYIDIKAN KETUA APKOMINDO BERLANJUT- Hoky Minta Dikonfrontasi dengan Pelapor

YOGYA (MERAPI) - Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo), Ir Soegiharto Santoso alias Hoky meminta penyidik Polres Bantul

Close