Mengapa Suporter Tewas ?


ilustrasi
ilustrasi

LAGA sepakbola kembali menelan korban jiwa. Seorang suporter, M Asasulloh Alkhoiri (20), warga Sribit Klaten tewas usai menonton pertandingan sepakbola antara PSS Sleman dan Persis Solo di Stadion Maguwoharjo Sleman Sabtu pekan lalu. Ia ambruk setelah dilempar batu oleh gerombolan suporter saat melintas di Jalan Yogya-Solo Kalasan Sleman.

Korban sempat dilarikan ke rumah sakit PDHI Kalasan kemudian dirujuk ke RSUP Dr Sardjito, namun jiwanya tidak tertolong karena luka serius di bagian dada. Sementara gerombolan suporter yang menyerang korban kabur dan masih dalam pengejaran petugas. Mengapa laga sepakbola masih diwarnai aksi kekerasan terhadap suporter ?

Diketahui, korban adalah pendukung kesebelasan yang bertanding, sedang penyerang adalah suporter klub lawan. Namun mengapa harus jatuh korban, bahkan nyawa melayang ? Lagi-lagi, aksi brutal suporter menjadi teror yang sangat menakutkan karena mengancam nyawa orang.

Meski panitia telah berusaha keras mengantisipasi ketegangan antarsuporter, tetap saja jatuh korban. Berdasar analisa kepolisian, aksi pelemparan batu terhadap korban sudah direncanakan. Terlepas korban adalah pendukung kesebelasan yang mana, aksi kekerasan tidaklah dibenarkan. Sebagai pendukung kesebelasan kesayangannya, korban yang saat itu berboncengan dengan adiknya tidak mengira bakal dibuntuti suporter lain. Terlebih, korban menggunakan sleyer serta atribut pendukung kesebelasan, sehingga mudah dikenali suporter lain.

Dari situlah sebenarnya menjadi awal petaka. Apalagi, saat itu korban hanya bersama adiknya, sementara suporter lainnya bergerombol dalam jumlah banyak. Meski korban sudah berusaha masuk kampung tetap saja menjadi sasaran lempar batu hingga menyebabkan meninggal.

Bila benar aksi ini telah direncanakan, maka hukumannya lebih berat ketimbang penganiayaan biasa. Sebagaimana diatur Pasal 353 KUHP, penganiayaan yang direncanakan dan berakibat korban tewas, ancaman pidana kepada pelaku maksimal sembilan tahun penjara. Lain lagi bila pelaku memang berniat menghabisi nyawa korban, maka dapat diterapkan Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman pidana penjara paling lama lima belas tahun.

Para suporter yang menyerang korban ini kini kabur dan tak mau bertanggung jawab. Mereka mau enaknya menghabisi nyawa orang lain tapi tidak dihukum. Polisi harus tegas dan tidak memberi toleransi kepada pelaku. Meski mereka berombongan, tetap bisa diindentifikasi berdasar
kesaksian korban maupun warga yang melihat kejadian. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
KOMPLOTAN PENCURI SEPEDA MOTOR-Berusaha Melarikan Diri, Residivis Ditembak

WONOSARI (MERAPI) - Sat Reskrim Polres Gunungkidul berhasil mengungkap pencurian sepeda motor di Kecamatan Nglipar dalam waktu tiga hari. Pencurian

Close