Memangsa Bocah Laki-laki


ilustrasi
ilustrasi

TIDAK selamanya tetangga berkelakuan baik, ada pula yang neko-neko, bahkan berbuat kriminal. Seperti yang dilakukan Sd (55), warga Danurejan Yogya, ia tega berbuat asusila terhadap tetangganya sendiri yang notabene masih duduk di bangku kelas 4 SD. Dengan modus mengiming-imingi yang Rp 10 ribu, ia mencabuli bocah laki-laki tetangganya. Peristiwa itu terjadi pada Sabtu malam pekan lalu.

Perbuatan bejat Sd akhirnya ketahuan setelah korban didesak orangtuanya yang kemudian melaporkan pelaku ke polisi. Dalam waktu singkat polisi pun membekuk Sd. Sd mengakui terus terang perbuatannya. Namun ia mengelak telah melakukan pemaksaan atau acaman kekerasan kepada bocah tersebut. Menurutnya ia hanya mengiming-imingi uang Rp 10 ribu agar korban menuruti kemauannya.

Sd yang bujang lapuk itu, boleh jadi mengalami kelainan seksual atau sering dikenal dengan istilah paedophilia. Ia menyukai bocah sesama jenis.
Maka dari itu, terkadang keluarga korban tidak mengira bila Sd adalah penjahat seks yang memangsa anak sesama jenis. Mungkin dikiranya bila bergaul dengan sesama jenis kondisinya aman. Malahan,

yang terjadi pada bocah SD ini bertolak belakang. Kondisi kelainan seksual tentu tak bisa menjadi alasan pembenar perbuatannya. Dengan kata lain Sd tetap dijerat dengan UU Perlindungan

Anak dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun. Kasus ini menjadi pembelajaran bagi orangtua untuk tidak teledor mengawasi anak-anaknya.
Jangan dikira kalau anak laki-laki yang dititipkan kepada tetangga, karena orangtuanya pergi, akan baik-baik saja. Boleh jadi itu malah menjadi awal petaka. Orang yang jiwanya tidak stabil dan mengalami gangguan seksual, mungkin sudah tidak malu lagi bila perbuatannya diketahui orang lain.

Alhasil, mereka tanpa beban mencabuli anak-anak. Anak-anak pun hanya bisa diam lantaran diancam atau malah diberi iming-iming uang seperti dilakukan Sd.
Mencermati peristiwa di atas, tentu bukan berarti kita harus selalu curiga kepada tetangga, melainkan tetap harus waspada. Janganlah meninggalkan anak sendirian, karena bisa saja predator anak berkeliaran mencari mangsa. Usahakan anak tetap pada jangkauan orangtua, guna mengantisipasi kemungkinan yang terburuk. Pandangan bahwa bergaul dengan sesama jenis harus dilarang kiranya juga tidak relevan. Siapapun berhak mendapat perlindungan hukum. (Hudono)

Read previous post:
ilustrasi
PELAPOR APRESIASI LANGKAH KEPOLISIAN Kasus Pengembang Perumahan Masuk Penyidikan

YOGYA (MERAPI)- Laporan pidana penempatan tanah tanpa hak oleh terlapor Alex Tri Yoga ST, Direktur pengembang PT Kreasi Cipta Bukit

Close