Bunuh Diri Usai Aniaya


ilustrasi
ilustrasi

BENAR kiranya nasihat para orangtua kepada putri-putrinya agar hati-hati memilih calon suami. Sebab, pada akhirnya, sang putri itulah yang harus menanggung akibat pilihannya. Memilih suami yang temperamental misalnya, maka istri harus siap-siap mengantisipasinya, karena ibarat menyimpan bom waktu suatu saat bisa meledak hingga rumah tangga hancur.

Entahlah, apa yang menjadi komitmen Siti Asadah Damayanti (34), warga Dusun Jetis Pacarejo Semanu Gunungkidul hingga memilih Wd (35), menjadi pendamping hidupnya. Baru beberapa tahun menikah, mereka sudah pisah ranjang. Mereka juga sudah dikaruniai anak yang kemudian ikut Asadah.

Suatu ketika, usai menjemput anaknya, Saadah mampir ke tempat suami di Semanu. Entah apa penyebabnya, mereka cekcok dan berujung penusukan oleh Wd. Asadah pun terkapar bersimbah darah, untung segera dibawa warga ke rumah sakit. Wd panik dan berusaha bunuh diri dengan menggorok leher sendiri, namun berhasil digagalkan warga.

Berdasar keterangan warga maupun famili, Wd pernah mengalami gangguan jiwa. Tapi masih belum jelas apakah gangguan jiwa itu identik dengan gila atau sebatas depresi. Pertanyaannya kemudian, apakah hal itu tak diketahui Siti Asadah sebelum mereka menikah ? Lagi-lagi harus ditelusuri. Beruntung nyawa Asadah masih bisa diselamatkan sehingga yang bersangkutan bisa dimintai keterangan setelah sembuh nanti.

Andai saat itu Wd berhasil bunuh diri, kasus langsung selesai dan ditutup karena tersangka meninggal. Bukankah tidak mungkin menjatuhkan pidana kepada tersangka yang meninggal ? Tapi karena Wd hidup, terbuka kemungkinan untuk memproses hukum yang bersangkutan. Dengan kata lain,

Wd tetap diancam pidana karena telah menganiaya berat istrinya. Bahkan ia bisa disangka dengan pasal berlapis, baik KUHP tentang penganiayaan maupun UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) khususnya tentang penganiayaan suami terhadap istri.

Soal apakah benar Wd mengalami gangguan jiwa, tentu harus diperiksa ahli. Ahli-lah yang menentukan apakah seseorang mengalami gangguan jiwa atau tidak. Kalau jawabnya ya, apakah sudah pada tahap parah hilang kesadaran akal sehatnya 100 persen atau seperti apa. Inilah nantinya yang menentukan dapat tidaknya Wd dimintai pertanggungjawaban hukum. Bila terbukti ia gila, hampir dipastikan ia akan terbebas dari jerat hukum. Sebaliknya bila belum sampai gila, masih dimungkinkan dipidana. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
MENEMPATI RUMAH YANG TELAH DIJUAL- Terdakwa Dinilai Rampas Hak Pembeli

BANTUL (MERAPI) - Terdakwa penjual rumah, Ny Wlj (43) warga Kasihan Bantul kembali diajukan ke sidang pidana di Pengadilan Negeri

Close