Deklarasi Perangi Klitih


ilustrasi
ilustrasi

MEMBICARAKAN klitih sepertinya tak ada habisnya. Bila orang menyebut klitih, arahnya selalu ke Yogya. Seolah-olah klitih hanya ada di Yogya. Padahal, di tempat lain pun ada, hanya saja namanya bukan klitih. Karena istilah tersebut sudah sangat akrab di telinga masyarakat, maka klitih selalu dikonotasikan negatif. Padahal, sebenarya tidak demikian. Salah kaprah ini telanjur tersosialisasika secara luas di masyarakat. Tidak gampang untuk meluruskan istilah ini, misalnya dengan menyebut kejahatan jalanan dan sebagainya.

Hal paling spesifik dalam kejahatan klitih adalah pelaku bikin onar, melukai orang lain tanpa sebab atau motif yang jelas. Sedangkan untuk kejahatan konvensional motifnya jelas, misalnya perampokan dengan motif ekonomi, penganiayaan dengan motif dendam dan sebagainya.

Saking seriusnya masalah klitih, dan sudah pada taraf mengganggu ketertiban masyarakat, ribuan masyarakat DIY sampai harus turun ke jalan mendeklarasikan perang melawan klitih dan menolak kejahatan jalanan. Mereka menamakan aksinya dengan Aksi Jogja Damai 9119 sesuai tanggal, bulan dan tahun diselenggarakannya aksi. Aksi mereka pun mendapat simpati masyarakat luas serta aparat penegak hukum.

Hal cukup menarik dari usulan mereka adalah perlunya peraturan daerah atau perda yang mengatur tentang klitih, termasuk peran masyarakat dalam memerangi kejahatan ini. Selain itu mereka juga meminta aparat penegak hukum bertindak tegas dan memproses hukum pelaku secara transparan. Saat digelar deklarasi perang melawan klitih, di mana para cah klitih itu ? Juga, di mana para orangtua yang anaknya terlibat klitih ? Boleh jadi mereka sedang sibuk urusan masing-masing.

Deklarasi tersebut sebenarnya menjadi momentum melakukan pembersihan terhadap klitih secara besar-besaran. Karena umumnya cah klitih masih berstatus pelajar, pemberantasan itu bisa dimulai dari sekolah.

Sekolah mestinya sudah bisa mendeteksi murid-muridnya yang perilakunya tidak wajar dan mengarah klitih. Dalam hal ini para orangtua juga tak boleh abai, hanya menyerahkan pendidikan kepada sekolah. Mereka tetap bertanggung jawab atas perilaku anak-anaknya.

Apalagi, saat ini sudah banyak cah klitih dari kalangan pelajar yang dijadikan tersangka. Para orang tua yang punya anak pelajar tak boleh main-main. Bahkan mereka dapat dimintai pertanggungjawaban hukum bila terbukti dengan sengaja memberi fasilitas kepada anaknya untuk  melakukan klitih. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
RAZIA GABUNGAN DI SLEMAN- Nyambi Jual Miras, Buruh Lepas Ditangkap

SEYEGAN (MERAPI)- Minuman keras (miras) berbagai merek berhasil diamankan anggota kepolisian Sektor Seyegan pada razia yang digelar Sabtu (12/1) malam.

Close