Menonton Pesta Seks


ilustrasi
ilustrasi

TERBONGKARNYA kasus pesta seks di Sleman, sungguh menampar citra Yogya sebagai daerah wisata sekaligus budaya. Munculnya kasus tersebut seolah menjadi ironi bagi Yogyakarta yang selama ini dikenal santun dan berbudaya. Tapi itulah faktanya bahwa di sebuah kamar hotel
kawasan Condongcatur Depok Sleman telah terjadi peristiwa yang bukan saja memalukan, namun juga bikin kita miris. Bagaimana mungkin di wilayah yang selama ini dikenal sebagai tempat berkumpulnya kaum intelek namun perilakunya bak binatang ?

Sulit membayangkan ada adegan seks yang kemudian ditonton dan penontonnya diminta membayar Rp 1 juta. Petugas masih mendalami kasus tersebut, termasuk kemungkinan apakah penonton juga terlibat adegan seks. Paling tidak ada tiga pihak yang terlibat dalam tindak asusila ini, yaitu penyeleggara, pemain dan penonton. Bisa saja penonton merangkap sebagai pemain.

Malu rasanya membincangkan kasus ini di area publik. Namun kita tak boleh menutup mata, di manapun, entah itu di Yogya atau kota lain, pasti ada kejahatan susila, termasuk seperti yang terjadi di Depok Sleman. Soalnya, apakah aktivitas itu ketahuan petugas atau tidak.
Aksi segelintir orang itu sesungguhnya tak serta merta mencederai predikat Yogya sebagai kota pendidikan dan budaya. Sebab, peristiwa tersebut bisa terjadi di mana saja.

Pantaslah kiranya Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X geram dan berharap kasus pesta seks ini merupakan yang pertama dan terakhir terjadi di wilayah DIY. Semua pihak tentu harus mendukung peryataan Sultan. Artinya, yang perlu dilakukan saat ini adalah melakukan pengawasan yang ketat terhadap aktivitas yang menjurus pelaggaran susila.

Kita mengapresiasi petugas kepolisian di jajaran Polda DIY yang melakukan patroli cyber sehingga pesta seks di Sleman bisa terdeteksi. Agar menimbulkan efek jera, kiranya kepolisian perlu menerapkan sanksi tegas terhadap pelaku, termasuk penonton. Sebab ada indikasi penonton juga terlibat dalam aktivitas seks liar tersebut.

Dalam hukum pidana, orang yang tidak mencegah terjadinya suatu tindak kejahatan (termasuk kejahatan seksual) juga diancam pidana. Bila diterapkan dalam kasus di atas, menonton pesta seks pun dapat dijerat hukum, apalagi terlibat di dalam pesta tersebut. Kita mendorong polisi untuk terus berpatroli di dunia maya, karena boleh jadi masih ada kasus serupa yang belum terungkap. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
CURI TIGA AYAM JAGO Residivis Kambuhan Dituntut 1,5 Tahun

BANTUL (MERAPI) - Seorang residivis kambuhan yang lima kali masuk penjara, Rsg (46) warga Jerukan Sidomulyo Bambanglipuro Bantul 8dituntut 1

Close