Oknum Caleg Mesum

 

ilustrasi
ilustrasi

OKNUM caleg mesum di kos. Itulah judul headline Koran Merapi Selasa lalu. Judul tersebut tentu menarik perhatian pembaca. Mengapa berita seperti itu tampil di halama depan, bahkan jadi headline koran ini ? Tak lain karena kepentingan publiknya sangat tinggi. Pertanyaan
selanjutnya, di mana letak kepentingan publiknya ?

Seperti diberitakan, pelaku mesum itu adalah caleg yang hendak bertarung di Pemilu 2019. Orang awam pun tahu caleg adalah calon penyelenggara negara atau calon wakil rakyat. Bagaimana mungkin
seorang wakil rakyat perilakunya tidak terpuji ? Lantas bagaimana pula dia akan mampu membawa aspirasi rakyat yang diwakilinya.

Memang, semua terserah kepada para pemilih nanti, apakah akan memilih calon yang sudah diketahui perilakunya tercela atau sebaliknya memilih calon yang kredibel dan menjunjung tinggi etika. Pun terserah pada parpol yang mengusung calon tersebut, apakah akan menjatuhkan sanksi terhadap kadernya yang berbuat tercela atau tidak. Rakyat pasti pandai menilainya.

Kita menyebutnya dengan istilah oknum karena tidak semua caleg berbuat mesum seperti RM (34), caleg DPRD Bantul yang digerebek di sebuah kamar kos kawasan Jalan Gambuh Dusun Manukan Condongcatur Depok Sleman. Ia tertangkap basah saat berduaan di dalam kamar bersama
perempuan bersuami, KD (34) warga Banguntapan.

Benarkah mereka telah berselingkuh ? Kiranya tak perlu penjelasan njlimet ketika dua orang dewasa berlainan jenis masuk dalam kamar. Tak perlu ditanyakan apa yang mereka lakukan. Juga tak mungkin ada CCTV di dalam kamar, karena mengganggu privasi penghuninya. Persoalan menjadi tambah serius dan perimplikasi hukum karena status KD yang masih istri orang. Bahkan suaminya sendiri yang memimpin penggerebekan itu didampingi kepolisian setempat.

Karena yang mengadu atau mempersoalkan adalah suami KD, maka kasusnya dapat berlanjut. Keduanya, RM dan KD, dapat dijerat Pasal 284 KUHP tentang perzinaan atau perselingkuhan. Bisakah hanya salah satu yang diproses, misalnya hanya KD karena telah mengkhianati suaminya, jawabnya tidak bisa. Sebab, delik perzinaan tak bisa dibelah, artinya, satu kena lainnya juga kena. Bukankah perselingkuhan tak bisa dilakukan hanya satu orang ?

Kasus di atas tentu menjadi pelajaran berharga bagi caleg lainnya agar lebih berhati-hati dalam berperilaku di tengah masyarakat. Sebab, dengan melakukan tindakan tercela, elektabilitasnya diyakini akan menurun. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
PRAPERADILAN HOKY KE KAPOLRES Penyidik Yakin Hanya Penganiayaan Ringan

  BANTUL (MERAPI) - Saksi mantan penyidik Polres Bantul, Sigit Teja Sukmana yang dihadirkan termohon Kapolres Bantul sebagai saksi meyakini

Close