Korban Lawan Klitih

 

ilustrasi
ilustrasi

KASUS meninggalnya dua cah klitih, Af (20) dan Rt (17), warga Seyegan Sleman setelah terlibat kecelakaan lalu lintas di Jalan Seyegan-Kebonagung Margokaton Sleman, baru-baru ini masih menjadi perbincangan hangat masyarakat. Bahkan peristiwa tersebut sempat viral
di media sosial (medsos). Banyak netizen yang justru bersyukur atas meninggalnya dua cah klitih tersebut. Peristiwa itu bisa dijadikan momentum bagi cah klitih untuk insyaf.

Polisi pun tak serta merta menjadikan sopir pick up yang menabrak dua pelajar tersebut sebagai tersangka. Kalau dicermati, kecelakaan tersebut memang bukan peristiwa biasa dan berdiri sendiri, melainkan terkait dengan peristiwa sebelumnya, yakni ketika cah klitih itu menggunakan tongkat besi memukul kaca mobil pick up yang dikendarai Nur (34), warga Seyegan Sleman hingga pecah. Nur yang saat itu bersama istrinya, spontan berbalik arah mengejar dua cah klitih yang mengendarai motor scoopy.

Dasar klitih, mengetahui dikejar korbannya, bukannya takut, malah mengancam akan membunuh Nur. Selanjutnya, entah bagaimana prosesnya, tiba-tiba terjadi kecelakaan hebat, mobil menabrak motor klitih dan rumah penduduk, hingga mobil terbalik. Nur dan istrinya mengalami luka-luka, sedang Af dan Rt tewas di tempat kejadian. Af dan Rt mungkin tidak mengira bila korban berani melawan, bahkan mengejarnya. Boleh jadi, dalam kondisi emosi yang tidak stabil, pengemudi pick up ingin memberi pelajaran kepada dua cah klitih itu, namun karena peristiwa begitu cepat, tahu-tahu keduanya sudah tersungkur dan meninggal di tempat kejadian.

Apakah pengemudi pick up hendak dijadikan tersangka dalam peristiwa tersebut, polisi harus hati-hati dan penuh pertimbangan. Benar yang disampaikan Kapolres Sleman AKBP Firman Lukmanul Hakim bahwa peristiwa tersebut harus dilihat dari awal, tidak mungkin orang tiba-tiba menabrak orang lain hingga mati.

Dalam hukum pidana dikenal istilah alasan pemaaf atau pembenar perbuatan. Tentu polisi akan mengumpulkan keterangan saksi yang melihat kejadian tersebut. Bisa saja pengemudi pick up terbebas dari kesalahan karena alasan tertentu, misalnya kondisi darurat atau ada
alasan pembenar. Apapun kejadiannya, peristiwa yang terjadi di Seyegan Sleman seharusnya menjadi lampu merah bagi cah klitih.

Mereka harus segera menghentikan aksinya. Sebab, koban bisa saja melawan seperti pada kasus di atas. Bila cah klitih tetap nekat maka nyawa taruhannya. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Akhir Pekan Ini, Gadis-Gadis Perebutkan Mahkota Miss Bantul

BANTUL (MERAPI) - Pendapa Parasamya Bantul akan menjadi saksi sejarah pemilihan Miss Bantul 2018. Grandfinal yang akan dilaksanakan Sabtu (16/12)

Close