Harga Diri Seharga Nyawa

 

ilustrasi
ilustrasi

KALAU sudah menyangkut harga diri, seseorang bisa berbuat apa saja, bahkan hingga nyawa melayang. Ini pula yang jadi latar belakang kasus pembunuhan suami terhadap istri di Kebumen baru-baru ini. Dar (38), warga Desa/Kecamatan Bonorowo Kebumen tega membunuh istrinya yang baru dinikahi delapan bulan. Ia mengaku tidak dihargai lagi oleh sang istri. Perkataan sang istri juga dinilai sangat menghina dan menyakitkan. Istri sering meminta sesuatu di luar kemampuannya.

Sabit pun bicara. Dar mengambil sabit dan langsung menyabetkan ke istri yang sedang tiduran. Menyadari sang istri tak berkutik dan bersimbah darah, timbul penyesalan dan Dar langsung menenggak racun serangga. Namun aksi bunuh dirinya gagal, ia diselamatkan dokter RSUD
Prembun. Setelah kondisinya pulih, Dar langsung ditetapkan sebagai tersangka.

Peristiwa pembunuhan yang terjadi pada 15 November lalu ini baru disidik belakangan lantaran pelaku saat itu masih dirawat akibat menenggak racun serangga. Kasus ini patut menjadi pelajaran bagi para pasangan suami istri. Orang awam tentu tidak menyangka bila Dar bisa berbuat seperti itu. Bahkan, Dar sendiri mengaku menyesal dan mengaku tidak ada maksud menghabisi nyawa istrinya. Maksudnya hanya sekadar memberi pelajaran.

Bagaimana mungkin memberi pelajaran menggunakan sabit ? Mungkin Dar bisa lolos dari tuduhan pembunuhan berencana Pasal 340 KUHP dengan ancaman pidana maksimal mati. Sebab, boleh jadi memang aksinya tidak direncanakan terlebih dulu. Namun jelas tindakannya sengaja dan mestinya ia patut menduga bahwa dengan menyabetkan sabit ke tubuh sang istri dapat berakibat kematian. Ia diancam pasal pembunuhan sebagaimana diatur Pasal 338 KUHP.

Harga diri Dar terusik ketika istrinya, Eni Hermawati (27), sering menuntut sesuatu di luar kemampuan suami. Lebih menyakitkan lagi, Eni menganggap Dar sebagai suami yang tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup istri. Awalnya Dar masih bisa nenahan diri, namun lama-lama tidak
tahan sehingga mengambil tindakan nekat menyabit istri hingga tewas.

Pelajaran penting dari peristiwa itu, hargailah suami, apapun profesinya. Terlebih, ketika menikah, mereka telah punya komitmen untuk hidup bersama baik dalam suka maupun duka. Namun, kalau kemudian ada persoalan, penyelesaiannya bukan dengan kekerasan seperti dilakukan Dar, tapi dirembuk dengan kepala dingin. Kalau tetap tak bisa disatukan, barulah perceraian jadi pilihan terakhir. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
GELAR PPA DI FH UNIVERSITAS JANABADRA- DPC Peradi se-DIY Bekali Calon Advokat

YOGYA (MERAPI) - Lima pengurus DPC Peradi se-DIY bekerja sama dengan Fakultas Hukum (FH) Universitas Janabadra Yogyakarta menggelar Pembekalan Profesi

Close