Solidaritas Membabi Buta

 

ilustrasi
ilustrasi

KASUS perusakan fasilitas Pengadilan Negeri Bantul dengan terdakwa anggota ormas Pemuda

Pancasila (PP) Bantul, Novi Kurniawan alias Tompel (21), warga Pajangan Bantul, patut menjadi

pelajaran berharga bagi siapapun. Awalnya Tompel bermaksud menunjukkan solidaritas kepada

rekannya Doni Bimo Saptoto yang divonis 5 bulan penjara dengan masa percobaan 9 bulan. Tak

disangka ia malah divonis lebih berat dari yang ia bela.

Merusak fasilitas umum atau fasilitas negara, apalagi pengadilan, tentu membawa konsekuensi

sangat serius. Tak mungkin Tompel bebas atas perbuatannya. Andai ia dibebaskan dengan alasan

solidaritas, misalnya, bisa dibayangkan akan ada berapa banyak fasilitas pengadilan yang
rusak. Sebab, dalam putusan hakim, apapun perkaranya, pasti ada pihak yang merasa tidak puas atau

tidak terima.

Hukum telah menyediakan sarana untuk menyampaikan ketidakpuasan putusan pengadilan, yakni dengan

mengajukan hak banding. Namun, apa yang dilakukan Tompel malah kontraproduktif. Begitu vonis

terhadap rekannya dibacakan, ia langsung mengamuk dan merusak fasilitas pengadilan. Bahkan, ia

bisa dituduh telah menghina lembaga pengadilan. Ironisnya, vonis antara Bimo, yang dibelanya,

tidak sebanding dengan vonis dirinya.

Agaknya Tompel tidak memahami cara membaca putusan pengadilan. Bimo divonis bersalah dan dihukum

5 bulan penjara dengan masa percobaan 9 bulan, itu artinya yang bersangkutan tidak perlu

menjalani hukuman penjara asalkan selama 9 bulan (masa percobaan) perilakunya baik dan tidak

melakukan tindak pidana apapun. Sebaliknya, bila selama masa percobaan itu ia melakukan pidana,

maka yang bersangkutan wajib menjalami hukumannya yang 5 bulan penjara itu.

Sedangkan hukuman yang diterima Tompel bukanlah hukuman percobaan, sehingga ia harus menjalani

masa hukuman tersebut hingga tuntas. Bahwa ia tidak terima dengan hukuman tersebut dan mengajukan

banding melalui pengacaranya, itu sepenuhnya hak Tompel. Biarlah pengadilan tinggi
memutuskan apakah akan mengurangi, tetap atau malah memperberat hukuman.

Dari peristiwa di atas, solidaritas yang ditunjukkan Tompel kepada rekannya, Bimo, caranya

keliru. Menunjukkan solidaritas tentu bukan dengan cara merusak fasilitas pengadilan, tapi bisa

dengan cara lain, misalnya dengan berdemonstrasi secara tertib tanpa merusak.

Menyampaikan pendapat adalah bagian dari demokrasi, tapi harus dilakukan secara santun.
Pelajaran penting pada kasus di atas, renungkan kemungkinan dampak hukumnya sebelum berbuat.

Sebab, bisa saja antara aksi dengan reaksi tidak seimbang. Solidaritas boleh saja, tapi jangan

membabi buta. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
KARTUN 27 November 2018

Close