Tua-tua Keladi

 

ilustrasi
ilustrasi

WAGIMIN (67), warga Sedayu Bantul mungkin patut mendapat julukan lelaki tua-tua keladi. Makin tua malah makin menjadi-jadi. Bukannya makin taat beribadah, malah sebaliknya berbuat nista dan tercela. Sekurangnya sudah tiga kali ia mencabuli (menyetubuhi) gadis difabel, tetangganya, sebut saja Kencur (15). Berbagai tipu daya dan ancaman dilancarkan demi memuaskan nafsu birahinya. Bahkan, Wagimin mengancam membunuh keluarga Kencur bila yang bersangkutan tak mau menuruti kemauannya.

Aksi bejat Wagimin berhenti bukan lantaran bertaubat, melainkan karena korban mengadu kepada keluarganya yang kemudian diteruskan laporan ke polisi. Wagimin pun dibekuk dan diseret ke pengadilan. Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Bantul, Selasa lalu, Wagimin divonis
bersalah dan dihukum 8 tahun penjara dan denda Rp 30 juta, lebih ringan dari tuntutan jaksa yang menginginkan hukuman 12 tahun penjara dan denda Rp 30 juta.

Entahlah apa yang ada di benak Wagimin ketika mencabuli gadis tetangganya itu. Ia bukan lelaki tua yang patut diteladani, tapi sebaliknya tua keladi yang tindakannya patut dikecam. Atas perbuatannya itu, ia bakal mendekam di penjara dalam waktu relatif lama. Bila hukuman itu ia jalani selama 8 tahun di penjara, setidaknya Wagimin akan keluar dari penjara pada usia 75 tahun, usia yang tergolong renta.

Namun bila yang bersangkutan mendapat keringanan, yakni remisi pada hari-hari tertentu, hukuman tersebut bisa saja berkurang. Bisa saja ia keluar dari penjara atau lapas sebelum 8 tahun sesuai vonis yang harus ia jalani. Hal itu tergantung perilaku Wagimin selama menjalani hukuman. Bila perilakunya baik, kemungkinan mendapatkan remisi.

Mengapa Wagimin mengincar gadis difabel yang notabene tidak berdaya ketika ditinggal sendirian oleh kedua orangtuanya ? Mungkin ia berpikir Kencur mudah untuk diperdaya dan dibohongi. Sementara hukum tidak membedakan korbannya difabel atau bukan. Meski dengan kondisi keterbatasan (difabel) Kencur tetap harus dilindungi. Pelaku yang notabene termasuk golongan kakek uzur pun sudah semestinya dihukum berat.

Apakah setelah menjalani hukuman, Wagimin akan insyaf ? Lagi-lagi tergantung orangnya. Lapas mestinya menjadi tempat yang ideal untuk menggembleng kepribadian seseorang sehingga kembali ke jalan yang benar. Itu teorinya. Bila tidak dibarengi pengamalan, niscaya teori itu tak punya arti apa-apa. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
TRADISI WIWITAN (2-HABIS) – ‘Pepiling’ dan Simbol Kebersamaan

SETELAH didoakan, mbah kaum kemudian menyiram air kendhi yang berisi daun pohon dadap sirep sebagai perlambang sebagai penenang hati bagi

Close