Buang Bayi untuk Ditemu

 

ilustrasi
ilustrasi

PENEMUAN bayi perempuan di halaman Panti Asuhan Putri Nurul Yasmin Desa Sukoharjo Ngaglik Sleman Minggu lalu, masih menjadi perbincangan hangat masyarakat. Bayi berumur satu hari itu diduga dibuang orangtuanya. Pertanyaannya, siapa orangtua yang tega membuang bayinya ?

Biasanya, dalam kasus pembuangan bayi, polisi cepat bergerak dan menangkap pelaku. Demikian juga dalam kasus ini, pelaku akan segera ditangkap. Kalau sudah ditangkap, lantas mau diapakan, apakah hanya akan diminta agar memelihara bayinya ? Tentu tidak. Siapapun yang membuang bayi, terancam pidana penjara.

Dalam peristiwa tersebut tidak ada indikasi pelaku hendak mencelakai bayinya. Karena itu pelaku membuangnya di tempat terbuka, bahkan di panti asuhan dengan harapan bayi tersebut ditemu dan dipelihara.

Ada beberapa kemungkinan mengapa bayi dibuang. Pertama, orangtuanya (biasanya pasangan muda mudi yang belum terikat perkawinan) merasa malu memiliki bayi hasil hubungan gelap (hugel). Untuk menghilangkan jejak, bayi tersebut kemudian dibunuh atau dibuang. Kalau dibunuh, tentu ancaman hukumannya lebih berat.

Kemungkinan kedua, bisa saja pelakunya adalah orangtuanya resmi (mereka telah terikat perkawinan), namun karena persoalan ekonomi, mereka tak mampu merawatnya sehingga membuang bayinya. Meski ini dimungkinkan, namun kemungkinannya kecil. Anak yang dilahirkan dalam situasi yang kedua ini sering diistilahkan sebagai kelahiran yang tidak dikehendaki. Tapi umumnya, pelaku secara terus terang menyerahkannya kepada orang lain untuk dipelihara.

Bagaimana dengan kasus pembuangan bayi di Ngaglik Sleman ? Dugaan paling kuat, pelakunya adalah orangtuanya yang belum terikat perkawinan sah, atau bayi tersebut hasil hubungan gelap. Karena orangtua, terutama ibu, merasa malu, ia kemudian membuang bayinya di tempat umum dengan tujuan ditemu orang lain.

Perbuatan tersebut diatur dalam Pasal 305 KUHP dengan ancaman pidana maksimal lima tahun enam bulan penjara. Pelaku juga diancam pasal berlapis antara lain dengan UU tentang Perlindungan Anak. Jadi, kalau pelaku tertangkap, selain tetap dimintai pertanggungjawaban hukum, yakni pidana penjara, yang bersangkutan juga harus memelihara dan merawat anak tersebut.

Untuk yang disebut terakhir ini tentu dilematis. Bagaimana akan merawat secara layak bila orangtuanya mendekam di penjara ? Karena itu, Dinas Sosial harus mengambil alih tanggung jawab merawat bayi tak berdosa itu. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Sopir Cabuli Siswi SD

  PATI (MERAPI) - Kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur di Desa Kalikalong Kecamatan Tayu mendapat perhatian khusus Kapolres

Close