Aborsi untuk Tutup Aib

 

ilustrasi
ilustrasi

HUBUNGAN gelap atau di luar nikah selalu membawa risiko. Terkadang pasangan muda-mudi mau enaknya, tak mau terikat perkawinan, namun melakukan hubungan layaknya suami istri. Meski hubungan mereka didasarkan suka sama suka, tetap berisiko ketika si perempuan hamil. Hamil di luar nikah akan membawa konsekuensi serius, terutama menyangkut status anak yang dilahirkan. Tapi hukum tetap menyediakan aturan ketika ada anak dilahirkan di luar perkawinan.

Memelihara anak di luar perkawinan jelas lebih utama ketimbang membunuhnya, baik semasa masih dalam kandungan maupun setelah dilahirkan. Acap karena orang tua biologis anak tersebut belum siap, baik secara materi maupun mental, timbul pikiran nekat untuk melenyapkan anak tersebut. Berbagai cara pun dilakukan, di antaranya mengonsumsi obat-obat penggugur kandungan, dengan harapan anak tersebut mati dalam kandungan.

Agaknya itulah yang dilakukan pasangan kekasih yang kos di wilayah Tambakbayan, Caturtunggal Depok Sleman, JP (19) dan PL (18). Atas perintah PL, JP menggugurkan kandungannya dengan mengonsumsi obat-obatan yang dibelinya secara online. Setelah upayanya berhasil, janin yang berusia 5 bulan itu kemudian dikuburkan di pemakaman umum setempat. Untungnya ada saksi mata yang melihatnya, sehingga ketika hal itu dilaporkan ke polisi, keduanya tak bisa berkelit.

JP dan PL, meski tidak ditahan, tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di muka hukum. JP tak bisa berkilah, misal dengan mengatakan dirinya berhak memperlakukan apa saja terhadap kandungannya, termasuk menggugurkannya. Sebab, pada dasarnya, setiap anak, termasuk yang masih a dalam kandungan, berhak untuk hidup. Bahkan, dalam kondisi tertentu, anak dalam kandungan sudah berhak untuk mewaris harta dari orangtuanya, dengan catatan bila anak itu hidup setelah dilahirkan.

Untuk menyadarkan JP dan PL, penjara adalah tempat yang paling tepat. Perilaku mereka jelas menunjukan tidak menghargai nyawa manusia, padahal darah dagingnya sendiri. Mengapa anak tak berdosa itu harus dibunuh, hanya demi menutupi aib orang tuanya ? Perbuatan mereka tidaklah sebanding, antara membunuh dan menjaga rasa malu. JP juga tak bisa berkilah dengan mengatakan pengguguran kandungan dilakukan karena perintah PL. Yang memerintah dan yang diperintah sama jahatnya, sehingga mereka dijerat pasal berlapis, baik KUHP maupun UU Perlindungan Anak, dengan ancaman pidana di atas lima tahun. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
JAKSA AKAN PERIKSA SAKSI- Curi HP di Masjid, Diadili

  YOGYA (MERAPI) - Pencuri HP, IPR (30) warga Panembahan Kraton Yogyakarta telah diajukan ke persidangan di Pengadilan Negeri (PN)

Close