Risiko Penenggak Oplosan

 

ilustrasi
ilustrasi

MIRAS oposan kembali menelan korban jiwa. Kali ini merenggut nyawa SM (42), warga Gedongkiwo Yogya, Senin pekan lalu. Sebelumnya, pada hari Sabtu, ia bersama dua rekannya, DN dan RH menggelar pesta miras di parkiran rumah makan di kawasan Bantul. Setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing. Pagi harinya DN dan RH mendatangi puskesmas karena merasakan mual dan pusing. Setelah ditangani petugas medis, mereka diizinkan rawat jalan. Sedang SM sepertinya terlambat, sempat dibawa ke ICU namun jiwanya tak tertolong.

Hingga saat ini polisi masih menyelidiki campuran apa yang menyebabkan SM meninggal. Namanya saja oplosan, acap tak terkontrol, bahkan dosisnya juga asal-asalan. Sayangnya polisi tidak menemukan sisa miras yang mereka tenggak, sehingga akan kesulitan untuk mencari sumber zat yang menyebabkan SM meregang nyawa.

Miras oplosan merenggut nyawa bukan sekali ini terjadi. Bahkan beberapa waktu lalu, Yogya sempat menjadi sorotan nasional lantaran kondisinya kontras dengan predikat sebagai kota pendidikan dan budaya. Bila ditotal, sudah belasan, bahkan puluhan orang meregang nyawa gara-gara nenggak miras oplosan.

Meski sudah ada larangan mengoplos miras, namun tetap saja terjadi pelanggaran. Pelaku merasa kuat sehingga tak takut ketika mengoplos miras dengan zat-zat berbahaya, seperti obat nyamuk dan sebagainya. Entahlah, apa sesungguhnya yang diinginkan para penenggak miras ini. Bisa jadi mereka menginginkan sensasi, namun kebablasan sehingga nyawa melayang.

Harus diakui, Perda Miras yang diberlakukan selama ini belumlah efektif. Perda hanyalah sebagai sarana administratif untuk mengatur peredaran minuman beralkohol serta toleransi kadar alkoholnya. Perda tersebut belum menyentuh kepada aspek yang lebih substansial, misalnya bagaimana menghindari miras serta bagaimana mengatasinya. Akibatnya, hampir setiap tahun, bahkan secara periodik, muncul kasus miras yang merenggut nyawa.

Orang yang meninggal karena menenggak miras oplosan, memang sudah tak bisa diapa-apakan. Hukum juga tak bisa berbuat apa-apa. Tidaklah mungkin menuntut atau meminta pertanggungjawaban kepada orang yang meninggal. Yang bisa dilakukan hanyalah melacak dari mana orang tersebut mendapatkan miras yang mematikan itu. Juga bisa dilacak ada tidak sindikatnya, termasuk bekingnya. Barulah hukum bergerak untuk menangkap dan membawa mereka yang terlibat peredaran miras oplosan itu ke pengadilan. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
KESIMPULAN GUGATAN PMH DAN PERLAWANAN- Proses Jual Beli Dinilai Cacat Hukum

  SLEMAN (MERAPI) - Sidang perkara gugatan perbuatan melawan hukum (PMH) dan perlawanan yang diajukan penggugat Ny Suhartinah, Retno Yuliastuti

Close