Perkosaan di Mobil

 

ilustrasi
ilustrasi

SUNGGUH  miris membaca berita seorang mahasiswi diperkosa sopir travel. Mengapa bisa terjadi ? Tidakkah mahasiswi tersebut minta tolong kepada warga ? Rasanya sangat sulit membayangkan situasinya saat itu, ketika W (22) mahasiswi asal Blora diperkosa di dalam mobil oleh sang sopir. Bahkan W diancam keselamatannya bila melaporkan kejadian yang ia alami itu ke polisi.

Pertanyaan awam, mengapa sopir bisa memperkosa penumpangnya,lantas bagaimana dengan penumpang lain yang berada di tempat tersebut ? Kebetulan, W adalah penumpang terakhir yang diantar sopir. Praktis pada saat itu tak ada penumpang lain yang menyaksikan. Sebenarnya W telah curiga ketika sang sopir mengatakan hendak mengantar paket ke daerah Kaliurang, padahal kos korban berada di Depok. Tapi W hanya diam saja. Ternyata diamnya W membawa petaka.

Singkat cerita, di kawasan Pakem, tepatnya di areal persawahan yang sepi warga, W diperkosa sopir. Sayangnya, peristiwa itu baru dilaporkan korban seminggu kemudian lantaran ada ancaman dari pelaku. Bahwa kemudian ada rumor bahwa antara pelaku dan korban saling kenal, bahkan ada hubungan asmara di antara mereka, tidaklah relevan. Sebab, yang disebut perkosaan adalah persetubuhan paksa, baik dengan kekerasan maupun ancaman kekerasan.

Jadi, entah mereka kenal atau tidak, bila unsur tersebut terpenuhi, maka pelaku diancam pidana berat Pasal 285 KUHP tentang perkosaan dengan ancaman pidana maksimalnya 12 tahun penjara. Mencari saksi selain korban, saat kejadian, rasanya tidak mungkin. Hampir tak pernah ada saksi perkosaan selain korban itu sendiri. Sebab, bila saat kejadian ada saksi yang melihatnya dan diam saja, justru orang tersebut terancam pidana karena tidak menolong korban.

Kasus sopir travel memperkosa penumpang, bila ini benar, mungkin baru pertama kali terjadi di Yogya. Kejadian tersebut tentu tak boleh digebyah uyah bahwa semua sopir travel perilakunya negatif. Itu sangat kasuistis. Karenanya, para perempuan yang biasa menggunakan jasa travel tetap harus hati-hati, terutama bila mendapat jatah akhir penurunan penumpang. Upayakan agar selalu berkomunikasi dengan teman atau siapapun yang bisa memantau posisi mobil travel. Kalau perlu, minta diturunkan di tempat terbuka, demi menghindari kawasan sepi. Terlebih bila telah larut malam, usahakan ada orang yang menemani. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Mengejar Ayah di Pohon Klengkeng

BOCAH laki-laki umur sembilan tahun itu oleh emaknya diberi nama Bambang Sagoro (bukan nama sebenarnya). Namun orang-orang di sekitarnya lebih

Close