Kakek Predator

 

ilustrasi
ilustrasi

SUNGGUH ironis, orang yang ,seharusnya melindungi malah berbuat keji. Itulah yang dilakukan kakek Harto Pawiro (55), warga Pandak Bantul. Ia tega mencabuli cucu kandung sendiri. Atas perbuatannya itu Pengadilan Negeri Bantul mengganjarnya dengan hukuman 8 tahun penjara dan denda Rp 30 juta subsider 2 bulan kurungan, Selasa pekan lalu.

Anehnya, sang kakek yang menderita stroke tidak nampak menyesal, bahkan ia menebar senyum ketika wartawan memotretnya. Ada apa dengan kakek bejat ini ? Umumnya, terpidana akan menyesal atas perbuatannya dan berjanji insyaf tidak akan mengulanginya. Berbeda dengan kakek yang satu ini, malah cengar-cengir merasa tak bersalah.

Terkadang masyarakat tidak habis pikir, bagaimana mungkin seorang kakek tega mencabuli cucu kandungnya sendiri. Dalam persidangan terungkap pencabulan itu dilakukan terhadap cucunya, sebut saja Kencur (5) saat rumah dalam keadaan sepi. Orangtua Kencur sengaja menitipkan putrinya itu kepadaHarto Pawiro yang notabene kakeknya. Lazimnya, anak takkan curiga kepada orangtuanya sendiri. Ternyata dugaan itu keliru, sang kakek malah beringas dan tega mencabuli kencur.

Perbuatan tersebut terungkap setelah Kencur bercerita kepada neneknya atau istri Harto Pawiro. Kasus pun dilaporkan ke polisi dan Harto diproses hukum hingga divonis 8 tahun penjara. Entahlah apakah vonis tersebut mampu membuat yang bersangkutan jera. Apalagi, nampak dari raut mukanya, Harto Pawiro tak menunjukkan penyesalan.

Kasus ini bisa menjadi pelajaran bagi para orangtua untuk lebih berhati-hati kepada siapapun, termasuk keluarga terdekatnya. Orang yang selama ini dianggap sebagai pengayom keluarga bisa saja berperilaku sebaliknya dan berubah menjadi predator anak. Sebaiknya para orangtua tidak melepas begitu saja anaknya kepada siapapun. Artinya, anak tersebut tetap harus diawasi dalam waktu 24 jam.

Dengan kejadian tersebut, Kencur tak boleh lagi tinggal bersama kakeknya, meskipun nanti sudah keluar dari penjara. Sebab, boleh jadi, Harto Pawiro mengalami kelainan seksual sehingga tak punya belas kasihan kepada cucunya sendiri. Sekalipun demikian, kondisi tersebut tak bisa menjadi alasan pemaaf atau penghapus kesalahan. Pun kasus seperti itu, tak cukup hanya diselesaikan secara kekeluargaan, melainkan pelakunya tetap harus diseret ke pengadilan. Bahkan, kalau perlu, hakim menjatuhkan hukuman tambahan berupa kebiri terhadap pelaku. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
MODUS LOLOSKAN JADI ANGGOTA TNI- Oknum Pensiunan TNI AU Diadili

  BANTUL (MERAPI) - Purnawirawan TNI AU, Suy (54) warga Gampar Kepatihan Tamanmartani Kalasan Sleman telah diajukan ke persidangan Pengadilan

Close