Akibat Angsuran Macet

 

ilustrasi
ilustrasi

ANDA pernah kredit kendaraan bermotor ? Kalau lancar bayar angsuran, relatif tidak ada masalah. Sebaliknya, bila angsuran seret, berhati-hatilah karena pihak dealer bisa saja mengambil tindakan sadis, yakni menyita kendaraan yang diangsur. Meski tidak semua dealer bersikap demikian, namun boleh dibilang umumnya akan bertindak tegas terhadap pengkredit yang molor bayar angsuran.

Terkait masalah ini, kita sering melihat pengkredit motor yang tiba-tiba kendaraannya ditarik secara paksa lantaran telat bayar angsuran. Pihak dealer biasanya akan menggunakan jasa debt collector atau penagih utang untuk menagih angsuran. Sebenarnya, dari asal katanya, penagih utang sah-sah saja dalam ranah hukum perdata.

Hukum perdata tidak melarang pemberi utang (kreditur) untuk menggunakan jasa penagih utang. Hanya saja, dalam praktiknya, banyak penagih utang yang bertindak kasar, bahkan brutal memaksa debitur untuk membayar utangnya. Kalau tidak segera melunasi atau mengangsur, maka barangnya disita. Cara-cara seperti inilah yang dilarang hukum. Jadi yang dilarang bukan debt collectornya, melainkan caranya dalam menjalankan tugas penagihan.

Seperti pada kasus baru-baru ini yang menimpa Wahyu (44), warga Tegalrejo yang tiba-tiba didatangi orang tak dikenal yang langsung merampas motornya gara-gara ia telah membayar angsuran. Saat itu sempat terjadi perang mulut, namun karena orang tersebut menggunakan cara kekerasan yakni merebut motor, Wahyu pun tak kuasa melawan. Usai kejadian, Wahyu melapor ke polisi.

Pria yang merampas motor Wahyu diduga adalah debt collector. Mestinya, kalau hendak meminta motor nasabah lantaran telat bayar angsuran, harus memperkenalkan diri terlebih dulu dan meminta baik-baik. Pun tindakan tersebut harus diperjanjikan terlebih dahulu antara pengambil kredit motor dengan dealer, sehingga ada dasar hukumnya.

Boleh jadi, pihak dealer ingin praktisnya sehingga mengabaikan prosedur yang benar. Padahal, debt collector tersebut bekerja atas nama pemberi perintah, yaitu dealer. Karenanya, bila kasus seperti ini hendak diungkap, debt collector harus diinterogasi, termasuk menanyakan surat tugasnya. Sebab, bila dia liar, maka aksinya bisa dikategorikan sebagai perampokan.

Terkait hal itu, masyarakat yang hendak mengambil kredit kendaraan bermotor disarankan untuk membaca perjanjian secara detail sehingga tidak menyesal di kemudian hari, termasuk konsekuensi ketika angsuran macet. Tapi bagaimanapun tindakan merampas barang baik dengan kekerasan maupun ancaman kekerasan, tidak dibenarkan hukum. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
AUDIENSI DENGAN BUPATI BANTUL-Ferari Siap Beri Bantuan Hukum

  BANTUL (MERAPI) - Untuk memperkenalkan diri kepada pemerintah dan masyarakat, Dewan Pimpinan Cabang Federasi Advokat Republik Indonesia (DPC Ferari)

Close