Tewas Saat Mabuk

 

ilustrasi
ilustrasi

ORANG bisa mati dalam keadaan apapun. Tragisnya bila ia mati di saat pesta minuman keras (miras). Entah karena over dosis, oplosan, atap faktor lain, orang bisa saja mati di pinggir jalan karena pesta miras.

Kondisi inilah yang dialami Ujang (30), asal Parahyangan Jawa Barat. Ia ditemukan meninggal di kursi trotoar tepi jalan Monjali Blunyah Sinduadi Sleman. Pria yang bekerja sebagai tukang servis jok itu meregang nyawa setelah sebelumnya pesta miras dengan teman-temannya.

Penduduk setempat awalnya mengira Ujang tidur, namun karena lama tidak bangun, ada warga yang berinisiatif mendekat dan melihat bibirnya membiru. Setelah diamati lebih jauh, yang bersangkutan sudah tak bernapas. Sedang teman-temannya yang ikut pesta miras telah pulang meninggalkan Ujang yang dikiranya tidur.

Itulah efek mengerikan dari miras, entah itu oplosan atau bukan. Masyarakat di sekitar lokasi sebenarnya sudah terbiasa melihat ujang dan teman-temannya mabuk miras. Lantaran dianggap tidak mengganggu, mereka dibiarkan saja sampai ada kasus Ujang meninggal.

Kematian Ujang tentu sangat tragis, karena dalam kondisi yang kurang menguntungkan, yakni di saat yang bersangkutan mabuk miras. Meski secara hukum kasusnya dianggap selesai, namun polisi bisa mengembangkan lebih jauh, terutama terkait kepastian penyebab kematian Ujang.

Misalnya, apakah Ujang mengonsumsi bahan-bahan berbahaya sebagaimana sering terjadi dalam kasus kematian akibat oplosan. Polisi harus menyelidiki dengan mengambil sampel minuman tersebut. Selanjutnya polisi akan melacak dari mana ia mendapatkan kiriman tersebut.

Kalau jaringannya rapi, acap tidak mudah mendapatkan keterangan soal produsen minuman berbahaya yang bisa merenggut nyawa . Kalau polisi hanya menyelidiki dari mana mendapatkan miras, mungkin mudah dilacak. Bahkan, di toko resmi terkadang juga menyediakan minuman beralokohol meski kadarnya tidak seberapa.

Lebih penting lagi, kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan untuk melapor ketika melihat ada indikasi ketidakwajaran di kampungnya, misalnya bergerombol sambil minuman keras. Artinya, masyarakat tak perlu menunggu sampai jatuh korban baru setelah itu melapor. Mencegah jauh lebih baik ketimbang mengobati.

Bukan lantaran tidak mengganggu, lantas mereka dibiarkan. Sebab, bagaimanapun orang yang mengonsumsi miras tetap potensial mengganggu ketertiban masyarakat. Jadi lebih baik melapor ketimbang semua sudah terlambat. (Hudono)

Read previous post:
UTAMAKAN GUYUB RUKUN – Dukung Kemajuan dan Kesejahteraan warga.

SEMANGAT guyub rukun maupun gotong-royong penting terus digelorakan. Layak mendapat acung jempol, ketika warga satu Rukun Tetangga (RT) terus menjaga

Close