Klitih Kuasai Jalanan ?

 

ilustrasi
ilustrasi

BENARKAH jalanan di Yogya sudah dikuasai cah klitih, terutama pada malam atau dini hari ? Pertanyaan ini relevan diajukan mengingat aksi klitih tak kunjung surut. Bahkan, baru-baru ini, rombongan cah klitih yang berjumlah enam orang mencegat motor dan memukuli pengendaranya. Sedangkan motor korban diinjak-injak. Padahal, antara pelaku dan korban tidak saling kenal. Ironisnya, peristiwa itu terjadi di Titik Nol Kilometer yang disebut-sebut sebagai sumbunya Kota Yogyakarta.

Untungnya, saat itu ada petugas yang jaga di sekitar lokasi dan langsung mengejar pelaku. Enam pelaku berhasil ditangkap masing-masing Rs, Ds, An, Bs, Rg dan Hv, semuanya warga Bener Tegalrejo Yogya. Mereka kemudian dibawa ke Polrestabes Yogya dan orangtua mereka dipanggil untuk kemudian mendapat pembinaan.

Maksud petugas tentu baik, yakni agar para remaja itu sadar dan tidak mengulangi perbuatannya. Pun dengan menghadirkan orangtua, diharapkan ada kepedulian terhadap nasib anak-anaknya yang berkeliaran di jalanan di malam atau dini hari. Pertanyaannya, apakah cara tersebut efektif dan membuat anak-anak kapok ? Jawabnya belum tentu. Apalagi bila orangtua abai dan tak lagi memantau aktivitas anaknya.

Meskipun saat digeledah cah klitih tak membawa senjata tajam, bukan berarti tidak membahayakan orang lain. Bagaimana mungkin bisa dibenarkan orang yang lewat di Titik Nol tiba-tiba dihentikan dan langsung dihajar dan dirusak motornya ? Mereka sama sekali tidak menghormati hukum, bahkan menganggap sepi aparat penegak hukum. Jika kondisi ini dibiarkan, niscaya orang tak lagi berani keluar malam di kawasan Malioboro maupun Titik Nol Kilometer. Padahal, saat ini Yogya sedang mengembangkan wisata malam.

Jalanan Yogya tak boleh dikuasai cah klitih. Dengan kata lain, jalanan di Yogya harus dibersihkan dari cah klitih. Dan bila tertangkap, kiranya tidak cukup hanya dilakukan pembinaan, mengingat kasus klitih terus berulang. Kalaupun hendak membina, polisi sebagai aparat penegak hukum dapat menerapkan sanksi misalnya dengan kerja-kerja sosial yang bersifat mengikat. Selain itu, mereka juga diwajibkan apel paling tidak seminggu dua kali. Dengan cara itu diharapkan mereka insyaf dan tidak mengulangi perbuatannya. Bila mengulangi, maka penjara tempatnya. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
DALAM DUA PEKAN- Polda DIY Ungkap 43 Kasus Narkoba

    DEPOK (MERAPI)- Sebanyak 51 orang tersangka penyalahgunaan narkoba diamankan Polda DIY dalam operasi narkoba Progo 2018 selama dua

Close