Teror Lempar Kaca Mobil

 

ilustrasi
ilustrasi

TEROR lempar kaca mobil yang belakangan marak di sejumlah daerah, terutama di Bantul terungkap. Dua cah klitih, masing-masing Ap (18) dan Ln (16) ditangkap di rumahnya kawasan Kasihan Bantul. Total mereka telah melempar kaca mobil sebanyak 27 kali. Yang sangat mengagetkan, aksi itu dilakukan sebagai pelampiasan atas masalah yang mereka hadapi di rumah. Misalnya usai cekcok dengan ayah dan sebagainya.

Tindakan polisi yang menangkap mereka harus diapresiasi. Terlebih polisi sudah sudah cukup lama memburu mereka, hingga akhirnya keduanya ditangkap tanpa perlawanan. Penangkapan itu berkat laporan korban yang hapal ciri-ciri pelaku. Apakah dengan ditangkapnya dua cah klitih ini teror pelemparan kaca mobil terhenti ? Setidaknya di wilayah Bantul, mungkin bisa diredam. Sedang di wilayah lain, seperti Sleman, polisi masih melakukan penyelidikan.

Aksi lempar kaca mobil memang menjadi teror bagi masyarakat. Bahkan di Sleman, seorang balita mengalami luka serius akibat aksi lempar kaca mobil. Tak hanya itu, di Godean Sleman, sampai menewaskan korban.

Pertanyaannya, apa sih yang dimaui cah klitih ? Mereka sebenarnya tidak punya target. Karenanya mereka melempari mobil secara acak. Seperti dilakukan Ap dan Ln, mereka mengaku tidak punya motif apapun selain hanya sebagai bentuk pelampiasan lantaran dibelit masalah keluarga. Memang terasa tidak logis, kalau masalahnya keluarga mengapa korbannya warga yang tak tahu menahu urusan mereka ?

Untuk kasus semacam ini aparat penegak hukum diharapkan bersikap lebih tegas lagi. Kalau perlu menjerat mereka dengan delik berlapis. Bukan saja perusakan barang, tapi mengganggu ketertiban umum. Kalau sudah mengganggu ketertiban umum seharusnya hukumannya lebih berat. Sayangnya, polisi dan jaksa punya kewenangan terbatas hanya menyidik dan menuntut, sedang putusan ada pada hakim.

Dengan demikian, diharapkan hakim yang memeriksa cah klitih lebih peka terhadap situasi di masyarakat yang merasa terteror dengan ulah klitih. Hakim berwenang untuk menjatuhkan pidana yang berat atau setimpal agar mereka tak mengulangi perbuatannya. Meski usia mereka relatif masih muda, bahkan tergolong anak-anak, hakim tetap berwenang memasukkan mereka ke penjara. Harapannya, tidak ada lagi aksi klitih di jalanan. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
TANTANG PERSIPUR SORE INI – Persiba Memburu Poin Tandang

  PURWODADI (MERAPI) - Semangat membumbung tinggi tengah melingkupi Persiba Bantul usai memetik kemenangan besar melawan Persijap Jepara pada laga

Close