Tingginya Denda Miras

 

ilustrasi
ilustrasi

DENDA dalam jumlah besar tak selalu membuat terdakwa insyaf. Denda hanyalah salah satu sarana agar terdakwa kapok tidak mengulangi perbuatannya. Tapi dalam praktiknya tak selalu efektif. Justru terkadang terdakwa lebih takut dipenjara, sehingga memilih denda meski jumlahnya cukup besar.

Fenomena inilah yang terungkap dalam sidang tindak pidana ringan (tipiring) kasus penimbunan miras dengan terdakwa Tri Atmojo warga Pandak Bantul di Pengadilan Negeri Bantul baru-baru ini. Tri Atmojo yang terbukti menimbun miras dihukum membayar denda Rp 20 juta subsider 1 bulan kurungan. Artinya, bila terdakwa tidak mampu membayar denda, konsekuensinya masuk penjara selama satu bulan.

Atas vonis tersebut ia memilih membayar denda Rp 20 juta ketimbang harus mendekam di penjara, meski hanya sebulan. Padahal, bila Tri memilih mendekam di penjara sebulan, maka ia tak membayar denda Rp 20 juta. Muncul pertanyaan, apakah dengan berjualan miras Tri bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp 20 juta ? Boleh jadi bisa, sehingga lebih memilih denda ketimbang masuk penjara.

Mungkin inilah yang membuat pelaku kejahatan miras tidak jera karena punya uang yang cukup sehingga tidak harus masuk penjara. Mungkin akan lain masalah bila denda tersebut dinaikkan lagi, misalnya menjadi Rp 50 juta atau lebih. Itupun sebenarnya tidak menjamin seseorang untuk tidak mengulangi perbuatannya.

Terkait masalah miras, kuncinya sebenarnya terletak pada sejauh mana pengawasannya. Apalagi Bantul telah memiliki Perda tentang miras sehingga lebih mudah dalam menerapkan hukum. Hanya saja, bila dicermati di lapangan, ada ketidaksinkronan antara larangan menjual miras dengan mengonsumsi miras.

Orang mengonsumsi miras dianggap tidak melanggar hukum sepanjang tidak mengganggu ketertiban masyarakat. Atau, dalam konteks pariwisata, wisatawan mancanegara ditolerir mengonsumsi miras karena sesuai dengan kebiasaan mereka.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah daerah hanya sekadar membuat regulasi tentang peredaran miras, yakni dengan melakukan pembatasan. Mereka yang menjual miras tanpa izin bakal terkena hukuman (tipiring). Sedang mereka yang mengantongi izin tetap diperbolehkan menjual. Pertanyaannya, yang dilarang adalah mengonsumsi miras atau menjual ? Bila dikaitkan dengan fakta di lapangan, kriminalitas banyak dipicu oleh miras. Nah, mestinya konsumsi miras pun seharusnya dilarang, bukan hanya dibatasi. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
HUT KE-70 BHAYANGKARI -Polwan Polda DIY Bagikan Cokelat dan Bunga

  DEPOK(MERAPI)- Puluhan polisi wanita (Polwan) dari Polda DIY membagi-bagikan bunga dan cokelat di simpang empat Tugu Yogyakarta, Kamis (23/8).

Close