Larangan Bawa Sajam

 

ilustrasi
ilustrasi

DASAR pemuda, gampang naik darah. Hanya ditantang warga, seorang pemuda OA (21) warga Sinduadi Sleman dan temannya AD (21) warga Donokerto Turi harus berurusan dengan polisi karena membawa senjata tajam. Singkat cerita, mereka mendatangi Dusun Pogungrejo Sinduadi mencari K, mantan pacar kekasihnya, yang menantang duel. Sesampai di dusun tersebut, OA yang membawa clurit ditegur warga dan tidak terima. Ia langsung mengacungkan clurit, hingga warga beramai-ramai menangkapnya.

Peristiwa yang terjadi belum lama ini menjadi pelajaran bagi siapapun untuk tidak berulah di kampung. Meski OA belum sempat menggunakan clurit yang dibawanya, namun sudah terkena delik, yakni tentang larangan membawa senjata tajam tanpa izin pihak yang berwenang. Keduanya dijerat Pasal 2 UU Darurat No 12 Tahun 1951 dengan ancaman pidana maksimal 10 tahun.

Padahal, kalau dicermati, persoalannya sangat sepele. Awalnya K tidak senang mantan pacarnya berjalan bersama OA. Apalagi, keakraban mereka diunggah di media sosial. Berikutnya, K menantang OA duel hingga mereka membuat janji bertemu. Sampai pada waktu yang ditentukan OA bersama temannya AD nglabrak ke kampung K hingga berakhir dengan penangkapan.

Apesnya, setelah OA diamankan polisi, ia malah diputus sang pacar. Lantas, bagaimana dengan K ? Tentu tak bisa diproses hukum, karena ia hanya melakukan provokasi tanpa mengancam atau membawa senjata tajam. Agaknya, OA telah termakan provokasi K sehingga membawa senjata tajam yang jelas-jelas dilarang hukum.

Tentu peristiwa di atas menjadi pelajaran bagi para pemuda untuk tidak gampang tersulut emosi dan berbuat kriminal. Mesk hanya mengacung-acungkan clurit, dan belum digunakan untuk membacok, tetap dikategorikan sebagai tindak pidana. OA tak bisa berdalih tindakannya hanya sekadar mengancam.

Membawa senjata tajam tanpa izin dilarang UU. Lantas bagaimana dengan mereka yang berprofesi sebagai jagal yang harus membawa senjata tajam ? Untuk hal yang demikian tidaklah dilarang undang-undang. Sebab, bila jagal membawa senjata tajam, peruntukannya sangat jelas, yakni berkaitan dengan profesi menyembelih hewan.

Berbeda dengan pemuda yang membawa clurit yang patut diduga untuk berbuat jahat. Membawa saja sudah dilarang, apalagi digunakan untuk membacok atau melukai orang lain. Karena itu, sudah tepat bila polisi mengamankan dan memproses hukum. (Hudono)

Read previous post:
TIGA BACALEG DINYATAKAN TMS – Partai Hanura Mengajukan Sengketa DCS

SLEMAN (MERAPI) - Partai Hanura resmi mengajukan sengketa terhadap kasil Daftar Pemilih Sementara (DCS) ke Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu). Gugatan

Close