Pencuri Kotak Infak

 

ilustrasi
ilustrasi

ADA saja tangan jahil yang mencuri kotak infak. Kelihatannya sepele, tapi sangat menjengkelkan. Itu pula yang dilakukan Dp (30) gelandangan asal Serang Banten. Setidaknya sudah dua kali ia mencuri kotak infak di Masjid Baiturrohim Jalan Sidokabul Umbulharjo Yogya. Yang pertama ia menggasak infak Rp 180 ribu sedang yang kedua Rp 78 ribu. Aksinya pun terekam CCTV.

Hingga pada akhirnya ada petugas takmir yang hapal wajah Dp dan memergoki yang bersangkutan sedang menggondol kotak infak. Dp pun diamankan dan dibawa ke pos polisi. Kasus terus berlanjut hingga ke pengadilan dan Dp divonis dua bulan kurungan. Dp tak mengira bakal dihukum hingga dua bulan, sehingga ia menangis begitu hakim mengetok palu.

Orang awam mungkin berpikir sangat sederhana, yakni pencuri harus dihukum biar kapok. Namun mengkin mereka tak pernah berpikir mengapa ia mencuri ? Diduga Dp mencuri karena faktor ekonomi yakni untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Tapi mengapa harus mencuri ? Itulah persoalannya.

Terasa ironis, infak masjid tentu dimaksudkan untuk kegiatan sosial keagamaan. Namun paling utama adalah untuk pemeliharaan masjid itu sendiri. Barulah ketika kebutuhan tersebut tercukupi, melangkah ke program berikutnya, antara lain untuk kegiatan sosial keagamaan. Bahkan, memelihara fakir miskin pun bisa dianggarkan melalui infak masjid, asalkan ada penjelasan kepada masyarakat bahwa dana masjid akan digunakan untuk kepentingan tersebut.

Kalau di tengah masyarakat masih ada orang miskin, bahkan kelaparan, lantas siapa yang salah ? Ini mestinya menjadi bahan perenungan bagi para pengambil kebijakan. Apalagi, bila ada warga yang mencuri infak masjid lantaran rasa lapar, tentu ini menjadi bahan refleksi bagi pengurus masjid. Paling tidak, masjid harus difungsikan sebagai lembaga sosial yang diharapkan bisa mengentaskan kemiskinan.

Tentu tulisan ini tidak bermaksud membenarkan orang miskin mencuri kotak infak, melainkan ingin mendudukkan persoalaan secara proporsional. Pada dasarnya mencuri tetap masuk kategori pidana, meski bersifat ringan karena nilainya tidak mencapai Rp 2 juta. Hanya saja kita melihat kasus malin infak ini dalam perspektif yang lebih luas. Misalnya, kalau negara menjamin kesejahteraan warganya, niscaya tidak ada orang yang menggelandang, apalagi sampai mencuri kotak infak. (Hudono).

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Raperda untuk Antisipasi ‘Wong Jowo Ilang Jawane’

KARANGANYAR (MERAPI) - Badan legislasi DPRD Karanganyar berinisiatif menyusun rancangan perda (Raperda) tentang pelestarian budaya Jawa. Gempuran budaya asing yang

Close