Pidanakan Tarian di Jalan

 

ilustrasi
ilustrasi

IBARAT pedang bermata dua, media sosial (medsos) membawa dampak luar biasa terhadap perilaku masyarakat. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan medsos karena hanya sebagai alat atau media informasi saja. Ia bisa dimanfaatkan secara positif, bisa pula sebaliknya, berefek negatif. Seperti media elektronik lainnya, medsos juga membawa efek simulasi atau peniruan.

Lihatlah, tak sedikit perilaku masyarakat yang hanya meniru perilaku yang ditampilkan melalui medsos. Bila perilaku tersebut positif, misalnya mengajarkan kerja keras, tentu sangatlah baik. Sebaliknya bila mengajarkan perilaku negatif, menjadi sangat berbahaya.

Saat ini sedang tren pelaku ‘Kiki Challenge’ yaitu keluar dari mobil yang berjalan pelan dan menari di jalan mengikuti alunan musik yang mereka mainkan. Bila aksi ini dilakukan di jalan raya, jelas sangat mengganggu lalu lintas dan membahayakan keselamatan diri pribadi maupun orang lain. Sangatlah tepat bila Polda DIY melarang aksi ‘Kiki Challenge’. Bahkan Polda DIY mengancam bila hal itu dilakukan di jalan raya dan mengancam keselamatan pengguna jalan, akan dipidanakan.

Peringatan Polda DIY tidaklah mengada-ada dan punya dasar hukum kuat. Tentu persoalannya bukan pada nama ‘Kiki Challenge’, melainkan pada tindakan mengganggu ketertiban umum atau mengganggu lalu lintas. Anehnya, ‘Kiki Challenge’ yang notabene bukan berasal dari Indonesia, digandrungi sebagian masyarakat kita, sehingga mereka meniru gerakan tarian di jalan.

Meski sejauh ini belum ada kasusnya, namun tindakan kepolisian yang antisipatif layak diapresiasi. Terlebih, apa pentingnya orang menari di jalan selepas keluar dari mobil yang berjalan perlahan ? Sama sekali tidak ada pentingnya. Demam ‘Kiki Challenge’ yang berasal dari luar negeri dan tersebar melalui instagram, youtube, serta medsos lainnya, tak perlu ditiru, apalagi ditumbuhkembangkan di Indonesia.

Bila ada warga yang ngeyel dan memperagakan ‘Kiki Challenge’ di jalanan, lebih baik diamankan, dan kalau perlu diproses hukum sebagaimana ancaman kepolisian. Kalau pun mereka ingin menari atau berjoget, hendaknya tidak di jalan, melainkan di tempat-tempat yang relatif aman serta tidak mengganggu arus lalu lintas.

Kiranya sudah bukan saatnya lagi, masyarakat latah hanya ikut-ikutan demi mengejar tren. Keselamatan diri dan orang lain tidaklah bisa ditawar sehingga harus mendapat prioritas utama. Menarilah sepanjang tidak membahayakan keselamatan manusia. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
PRAPERADILANKAN KAPOLSEK BANGUNTAPAN – Kedua Pihak Tetap pada Pendirian

  BANTUL (MERAPI) - Sidang permohonan praperadilan yang diajukan pelajar kelas 3 SMK, Akbar Ahmad Zulfakar warga Kledokan Caturtunggal Depok

Close