Antisipasi Penumpang Mabuk

 

ilustrasi
ilustrasi

TAK ada pekerjaan tanpa risiko. Termasuk profesi driver atau sopir, tak bebas dari risiko sekecil apapun. Seperti dialami sopir taksi online Junianto Efendi (25) warga Jalan Gejayan Depon Sleman, menjadi korban pemukulan penumpangnya Selasa dini hari pekan lalu di Jalan Gedongkuning sekitar Rumah Makan Ny Suharti. Ternyata penumpang yang memukuli Junianto dalam kondisi mabuk. Anehnya, temannya yang juga penumpang membiarkan Junianto dipukuli, setelah itu mereka kabur.

Gara-garanya sepele,yakni penumpang ngotot minta diantar lagi ke suatu tempat, sementara Junianto meminta agar menggunakan aplikasi lagi karena tujuan awal sudah sampai. Tenyata hal itu membuat penumpang naik pitam dan langsung memukuli Junianto. Tak terima dengan perlakuan itu, korban melapor ke polisi. Kasus tersebut masih ditangani Polres Bantul.

Cerita di atas mungkin sudah sering kita dengar. Bahkan ada cerita lain ketika penumpang sudah sampai tujuan, tidak mau bayar malah menganiaya sopir. Sang sopir tak berdaya karena dikeroyok. Inilah risiko sopir ketika mendapat penumpang nakal.

Lantas, bagaimana mengantisipasinya ? Tentu tidak gampang, karena sangat jarang sopir menolak penumpang. Tapi pada saatnya, ketika sang sopir merasa tidak nyaman dengan penumpangnya, apalagi dalam kondisi mabuk, seharusnya sudah menyiapkan jurus, misalnya dengan menghubungi teman atau aparat kepolisian. Sehingga, ketika terjadi hal buruk, dapat teratasi.

Bahkan, sopir berhak mengcancel order dari penumpang. Bila ada gelagat tidak beres, sopir sebaiknya tak meneruskan order penumpang untuk kemudian mencari penumpang lain. Ia seharusnya menolak menerima penumpang yang telah nyata-nyata dalam kondisi mabuk, ketimbang malah repot sendiri.

Memang kejahatan di jalanan, termasuk kasus sopir yang dianiaya di Jalan Gedongkuning, seharusnya bisa diantisipasi aparat kepolisian. Terlebih saat ini sudah ada Satgas Kejahatan Jalanan yang secara khusus menangani aksi kejahatan yang terjadi di jalanan. Sayangnya, jumlah personel aparat kepolisian sangat terbatas sehingga tidak mungkin mengcover seluruh area di Yogya.

Tidaklah ada pembenar orang yang mabuk boleh melakukan tindakan apa saja. Mereka tak bisa berdalih mabuk lantas tak sadar atas perbuatan yang dilakukannya. Sebab, meski mabuk, kesadarannya belum sepenuhnya hilang. Mereka masih bisa mengingat kejadiannya. Jadi, kasus tersebut harus diusut tuntas. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Jual Elpiji di Atas HET, SPBU Diprotes

  WONOSARI (MERAPI) -Puluhan Warga Kecamatan Playen, Gunungkidul menggeruduk Stasiun Pengisian Bahan Bakar Untuk Umum (SPBU) 14 di Jalan Manthous,

Close