Antisipasi Terorisme

 

ilustrasi
ilustrasi

YOGYA kembali dikejutkan aksi terorisme. Beberapa hari lalu, tiga terduga teroris ditembak aparat Densus 88 di Jalan Kaliurang Km 10, karena melawan petugas. Sebelumnya, pelaku membajak truk dan menyandera warga. Tapi aksi mereka terhenti setelah petugas menembak mati ketiga terduga teroris. Keterangan dari kepolisian menyebutkan, mereka sebelumnya telah dikuntit petugas dan melawan ketika hendak ditangkap.

Masyarakat mungkin bertanya-tanya, apakah Yogya jadi sarang atau tempat persembunyian teroris ? Bisa jadi jawabannya iya, tapi bisa jadi pula hanya sebagai tempat transit. Artinya, mereka hanya sekadar mampir di Yogya untuk kemudian menebar teror di daerah lain. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan.

Sangat disayangkan ketiga terduga teroris itu tewas sehingga tak mungkin dimintai keterangan. Padahal, petugas sangat membutuhkan informasi dari mereka, baik menyangkut motif maupun target aksi mereka. Dengan meninggalnya terduga teroris, petugas akan menemui kendala bila hendak mengusut jaringannya. Kalau memang benar mereka teroris, tentu punya jaringan.

Kini petugas hanya bisa mengandalkan informasi dari teman mereka yang telah tertangkap, serta bukti tertulis yang berhasil disita (kalau memang ada). Petugas memang punya alasan mengapa mereka menembak mati terduga teroris, yakni karena keselamatannya terancam. Pertanyaannya, apakah ancaman tersebut sudah sedemikian kuat sehingga harus menembak mati ? Mereka sendiri yang bisa menjawabnya.

Idealnya, para terduga teroris itu dilumpuhkan tanpa membuat nyawanya melayang. Sebab, dengan ditangkap hidup-hidup, akan lebih mudah bagi kepolisian untuk menelusuri jaringannya. Meski begitu, setidaknya tindakan kepolisian yang menangkap dan menembak mati terduga teroris mampu membuat masyarakat tenang.

Polisi, khususnya Densus 88, tentu sudah siap dengan segala konsekuensi atas tindakan mereka menembak mati kedua terduga terorisme. Berbagai kemungkinan, seperti bagaimana seandainya kelompok mereka melakukan balas dendam, harus diperhitungkan. Tentu masyarakat tak ada yang berharap ini terjadi. Karena itu harus dilakukan antisipasi sedini mungkin.

Kita tak ingin Yogya menjadi sarang teroris. Yogya adalah kota pendidikan, budaya dan wisata, serta tempat orang menimba ilmu. Masyarakat harus mempertahankan predikat ini. Karena itu, masyarakat harus berpartisipasi aktif mewujudkan Yogya sebagai kawasan yang aman, nyaman dan kondusif. (Hudono)

Read previous post:
Pencuri Spesialis Kos Ngaku Diajak Teman

  YOGYA (MERAPI) - Pencuri spesialis kos-kosan, IY bin Agus Kurniawan (25) warga Yogyakarta mengaku melakukan pencurian di tempat kos

Close