Perang Lawan Klitih

 

ilustrasi
ilustrasi

YOGYA kembali menjadi sorotan masyarakat, baik lokal maupun nasional. Sayangnya sorotan itu bersifat negatif menyusul aksi pembacokan yang dilakukan cah klitih terhadap seorang mahasiswa asal Semarang, Dwi Ramadhani Herlangga (26). Dwi meregang nyawa setelah dibacok di bagian punggung di kawasan Jl C Simanjuntak Terban Gondokusuman Kamis dini hari lalu usai membagi-bagikan makanan untuk sahur bagi masyarakat yang tidak mampu. Tanpa sebab jelas, pelaku tiba-tiba mengumpat dan membacok Dwi.

Meski sudah dibawa ke RSUP Sardjito, nyawa korban tidak tertolong mengingat lukanya sangat parah. Merunut kronologinya, mudah-mudahan korban meninggal syahid. Ya, Dwi Ramadhani meninggal pada bulan Ramadhan dan di saat sedang berbuat kebajikan membagi makanaan sahur buat orang tak mampu.

Lantas, bagaimana dengan pembacoknya, dua laki-laki yang berboncengan motor matic. Entahlah..mereka manusia atau bukan sehingga begitu tega membacok orang tak bersalah dan tanpa alasan jelas pula. Itulah mengapa aksi tersebut dikategorikan sebagai klitih. Atas kejadian itu, bukan hanya keluarga korban yang berduka, masyarakat Yogya ikut berduka. Sudah sedemikian ganas dan brutal cah klitih menebar teror di masyarakat.

Aksi klitih seharusnya juga diperangi habis-habisan sebagaimana juga aksi terorisme. Bahkan, karena peristiwa seperti itu sudah sering terjadi, bisa saja klitih dimasukkan dalam kategori kejahatan luar biasa, karena dapat menimbulkan ketakutan yang bersifat masif. Hanya saja kejahatan ini sebenarnya bisa terdeteksi dari awal, terutama para orangtua yang membiarkan anaknya berbuat klitih.

Tak jelas pula para orangtua pembacok ini melihat kelakuan anaknya yang membacoki orang tak bersalah hingga menemui ajal. Masih sangat sulit diterima akal sehat, mengapa ada orang setega itu membacok dan membunuh tanpa ada alasan atau motif, melainkan hanya demi kepuasan pribadi.

Sudah sering pula kita mengatakan Yogya darurat klitih, tapi adakah efeknya ? Walau kita tahu aparat berusaha bekerja maksimal, masih kecolongan juga lantaran keterbatasan personel. Jika demikian, apakah kita perlu meminta bantuan aparat TNI, seperti halnya dalam pemberantasan terorisme ? Demi memberi ketenteraman, keamanan dan kenyamanan masyarakat, pelibatan TNI tak ada salahnya. Jangan sampai Yogya dikuasai klitih. Jangan sampai pula cah klitih menganggap hukum tidak ada di Yogya. Mari kita perangi bersama. (Hudono)

Read previous post:
Siyonokidul Lolos ke Lomba Siskamling se DIY

  WONOSARI (MERAPI)- Kelompok Siskamling ‘Lumbu Gerang’ Dusun Siyonokidul, Logandeng, Playen Kabupaten Gunungkidul mewakili kabupaten maju lomba Siskamling se DIY

Close