Anarkisme Cederai Yogya

 

ilustrasi
ilustrasi

YOGYA yang dikenal sebagai barometer demokrasi tercoreng menyusul aksi anarkis yang dilakukan sejumlah orang yang mengklaim sebagai mahasiswa dalam momentum peringatan Hari Buruh 1 Mei di Pertigaan Kampus UIN Sunan Kalijaga. Pos polisi di sekitar lokasi dirusak dan dibakar oleh sekelompok orang yang mengklaim sebagai mahasiswa. Karena aksi sudah anarkis, polisi pun mengamankan mereka.

Sangat ironis, karena aksi para demonstran ini bukan mengusung isu perburuhan, melainkan soal penolakan pembangunan bandara di Temon. Diduga kuat mereka hanya mendompleng perayaan Hari Buruh. Pun diduga kuat mereka punya agenda terselubung di balik aksi anarkis tersebut.

Padahal, di tempat lain, aksi peringatan Hari Buruh berlangsung tertib dan damai, sama sekali tidak ada aksi kekerasan. Karenanya, banyak pihak menyesalkan mengapa aksi di Pertigaan UIN berlangsung anarkis. Sungguh aneh, pos polisi yang sama sekali tidak ada kaitan dengan isu yang mereka usung, menjadi sasaran amuk.

Kiranya sudah saatnya aparat penegak hukum bertindak tegas dan tidak diskriminatif. Perusakan dan pembakaran pos polisi, jelas-jelas tindak kriminal yang tak bisa ditolerir. Mereka telah merusak fasilitas umum yang sekaligus sebagai simbol aparat penegak hukum, sehingga harus dikenai sanksi pidana.

Penegakan hukum tidak membedakan apakah pelakunya orang Yogya atau bukan. Jadi, sekalipun pelaku bukan orang Yogya, tetap harus diproses hukum sampai ke pengadilan. Mungkin ada pihak yang mencoba melakukan negosiasi dengan aparat kepolisian agar para demonstran yang bertindak anarkis ini dilepas dan diberi ampun.

Janganlah karena alasan mereka masih mahasiswa, masa depan masih jauh, lantas diberi kompensasi. Sebab, penegakan hukum tidak mengenal apakah pelaku mahasiswa atau bukan, pun tidak mengenal apakah pelaku berasal dari Yogya, luar Yogya atau luar Jawa, karena semua diperlakukan sama di depan hukum.

Lebih penting lagi adalah, polisi harus mengungkap dalang peristiwa tersebut. Diyakini ada dalang di balik peristiwa pembakaran dan perusakan pos polisi di Pertigaan kampus UIN. Apalagi, melihat spanduk yang mereka pasang, arahnya sangat jelas, mereka menentang pembangunan bandara di Kulonprogo, menyerang Sultan dan tak setuju dengan status Sultan Ground maupun Pakualaman Groud. Nah, siapa di balik itu semua, polisi pasti tahu. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
GAMELAN, REFLEKSI HARMONI KEHIDUPAN JAWA (1) – Mewakili Prinsip Hidup Sehari-hari

Hampir setiap hari kita mendengar suara gamelan. Baik di radio, televisi, hotel-hotel, dalam pertunjukan ketoprak, wayang kulit, tayub dan dalam

Close