Gara-gara Rp 17 Ribu

 

ilustrasi
ilustrasi

HANYA gara-gara uang Rp 17 ribu, Robby (35), warga Patalan Jetis Bantul harus berurusan dengan pengadilan. Ya, ia disidang karena tertangkap mencuri kotak infak berisi uang Rp 17 ribu di Masjid Al Hikmah Kembaran Tamantirto Kasihan Bantul akhir Januari lalu. Kasusnya baru disidangkan di PN Bantul belum lama ini.

Biaya untuk menggelar persidangan tentu jauh lebih mahal ketimbang objek yang dicuri Robby yang hanya Rp 17 ribu. Namun persoalannya bukan soal besarnya uang yang dicuri. Apalagi, terdakwa juga sudah berulang kali melakukan hal sama, sehingga ia dikenal sebagai pencuri spesialis kotak infak.

Diseretnya Robby ke persidangan tak lain agar hukum ditegakkan. Di sisi lain ada sebagian masyarakat yang mencibir dengan ungkapan hukum tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Artinya kurang lebih hukum akan garang ketika diterapkan kepada masyarakat kecil atau wong cilik, namun tidak berdaya ketika berhadapan dengan orang-orang besar yang punya kekuasaan.

Lantas, apakah kasus pencurian yang nilainya hanya Rp 17 ribu ini tak perlu dibawa ke pengadilan ? Tentu tidak demikian cara berpikirnya. Seharusnya, kasus pencurian baik yang bernilai besar maupun kecil tetap diproses sampai ke pengadilan. Sebab esensinya sama, yakni mengambil barang yang sebagian atau seluruhnya milik orang lain dengan maksud dimiliki secara melawan hukum.

Hanya saja, untuk kasus pencurian bernilai kecil, MA telah mengeluarkan peraturan tahun 2012 yang intinya pencurian yang nilainya di bawah Rp 2,5 juta tak boleh ditahan karena tergolong ringan (Pasal 364 KUHP). Selain itu, hukumannya tak boleh lebih dari tiga bulan. Tapi Robby tidak dijerat dengan pasal tersebut karena pencuriannya dilakukan dengan cara masuk ke tempat barang itu diletakkan serta dengan merusak atau menggunakan kunci palsu.

Dengan demikian, poin pentingnya adalah tindakan pencuriannya itu sendiri, bukan pada nilai barang yang dicuri. Jadi, meski barang yang dicuri nilainya tak seberapa, namun cara pencuriannya memenuhi kualifikasi Pasal 263 KUHP, maka ancaman hukuman maksimalnya tujuh tahun penjara. Walau demikian, hakim tentu akan mempertimbangkan faktor yang meringankan. Robby tentu tak bisa disamakan dengan koruptor yang mencuri uang negara hingga miliaran rupiah. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Pandak Ekspo Ajang Promosi Potens Lokal

PANDAK (MERAPI) - Bupati Bantul Suharsono mengharapkan Pandak Ekspo yang digelar di Kecamatan Pandak, 27-29 April 2018, bisa dijadikan sebagai

Close